Pahlawan Bernama Korban

August 4th, 2005 by rumputapi

PAHLAWAN BERNAMA KORBAN

Pahlawan itu bernama
korban. Bukan saja karena “pahlawan” mensyaratkan “pengorbanan” tapi lebih dari
itu, yakni “korban” tidak selalu berarti “mati”, “menderita”, “tumbal” atau
“martir”.
Korban tidak selalu karena “kecelakaan, “sedang sial”,
“sudah nasib” dan “bagian dari resiko”.

***

Dan
kali ini pahlawan itu bernama korban.
Tepatnya, korban kekerasan HAM (victims of human rights violation).
Hanya saja, tidak semua korban menyadari dirinya pahlawan. Kisah Ibu Sumarsih misalnya. Sampai detik
terakhir penganugerahan Yap Thiam Hien
Award
2005 kepadanya (bahkan hingga saat ini – malah), ia tidak merasa menjadi pahlawan. Ia memilih menjadi
“korban” lalu tumbuh menjadi “pejuang” – membela korban-korban lainnya. Ia adalah
manifestasi transfungsi yang radikal.
Sebab, mulanya ia hanyalah “orangtua” dari Wawan,
salah satu mahasiswa yang jadi korban kekerasan pada Peristiwa Semanggi I
(13/11/98). Sebab, ia memang tidak mau jadi pahlawan. Sebab, (percayalah) tidak
semua orang mau jadi korban.

Padahal, “menjadi korban” (being victim) adalah hak juga. Bahkan, sejarah menunjukkan menjadi korban bukan hal yang memalukan. Sebab
keputusan menjadi (menyatakan diri
sebagai
) korban sama saja memberitakan
keberadaan pelaku
. Perlu cukup harga
diri
dan keberanian untuk
melakukannya. Para korban di Indonesia saat ini seperti di Argentina, Afsel,
Chile dan Guatemala, tanpa takut mengorganisir dirinya dan menyatakannya secara
tegas: kami adalah korban.
Tentu saja ini bukan untuk gagah-gagahan melainkan untuk merebut hak-hak korban: hak untuk
mengetahui (right to know), hak atas
keadilan (right of justice) dan hak
atas reparasi/pemulihan (right to remedy
and reparation
). Hak-hak yang senilai asasi - yang tidak pernah diharapkan
dan semestinya dihindari.

“Menyadari hak-hak korban”
(realize the rights of victim) memang
berbeda dengan kesadaran saat “menjadi korban”, yang datang bersamaan dengan
penderitaan. Untuk menyadari hak-hak korban, sesungguhnya tidak memerlukan
pengetahuan seluas samudera. Cukup ada percaya
diri
dan keyakinan. Inilah yang
seharusnya membuat korban menyadari dirinya adalah “pahlawan”. Sebab, ketika
memperjuangkan hak-haknya sebagai korban kekerasan HAM sesungguhnya para korban
telah memperjuangkan hak orang-orang yang
tidak menjadi korban
. Yakni, yang
berpotensi sebagai korban berikutnya
karena tidak terungkapnya kasus pelanggaran HAM – karena pelakunya bebas dan budaya kekerasan tetap hidup. Dan para korban telah berjasa
melindungi kita semua. Mereka menyadarkan kemanusiaan kita. Perjuangan mereka
membuat perlindungan terhadap kemanusiaan menjadi mungkin. Karena itu semua
maka korban adalah pahlawan.

Kekorbanan Marsinah (08/05/1993) yang utama adalah
perjuangannya karena dan ketika membela buruh seperti dirinya – memastikan hak pekerja, membuat
perusahaan berhitung untuk menindas hak kita. Itulah yang membuat kematiannya
menjadi berharga. Begitu pula dengan kekorbanan Udin (16/08/1996), yang mati karena membela tugasnya sebagai
wartawan – memastikan berita yang benar
kepada kita
. Kemudian hari ini kita bisa menikmati kebebasan informasi
lebih dari sebelum tewasnya Udin. Kita bisa hidup karena mereka mati – jadi
korban. Pahlawan tidak harus demikian. Inilah yang membedakan kekorbanan
dengan kepahlawanan.

Hingga tibalah korban pada
kesadaran bahwa dirinya adalah “pahlawan” – merasa berhak atas apresiasi dari
pemerintah/negara – lebih dari “menjadi korban” dan “menyadari hak-hak korban”,
seperti yang sedang dituntut oleh keluarga korban pada Peristiwa 12 Mei
1998/Trisakti. Ini bukan soal korban yang tidak menerima predikat dirinya
sebagai “tumbal” – menolak disebut “martir”. Bukan juga soal siasat korban
dalam mem-prioritisasi hak-haknya. Ini adalah revolusi dalam pemulihan (reparation) hak korban, dimana korban
tidak berhenti pada kesadaran akan kompensasi,
restitusi dan rehabilitasi, namun berlanjut untuk memberi perhatian lebih pada
unsur “kepuasan” (unsur kepuasan
memang menjadi bagian penentu dari reparasi, menurut laporan pelapor khusus
PBB). Ini adalah perjuangan dari marjinal
menjadi esensial kemudian kardinal. Tuntutan ini tidak arogan,
bahkan niscaya meski tidak harus.

***

Dalam Deklarasi Prinsip-Prinsip Dasar Keadilan bagi Korban Kejahatan dan
Penyalahgunaan Kekuasaan
, Konvensi
Internasional untuk Hak-hak Sipil dan Politik
serta Konvensi Anti Penyiksaan, telah dipastikan: adalah tanggungjawab
negara untuk menjamin hak-hak korban. Dengan demikian, ketika Presiden SBY
memastikan janjinya akan memberikan anugerah khusus pada Peristiwa 12 Mei
1998/Trisakti (28/06/05), meskipun cukup menyejukkan tetap saja kontroversial.
Sebab, Kasus Trisakti bersama Semanggi I dan II belum sampai di meja Pengadilan
HAM Adhoc. Perjuangan korban masih penuh halangan dan jebakan. Luar biasanya,
bukankah kabar ini berarti menunjukkan a road
to recognition
, pemastian menuju pengakuan negara atas “apa yang terjadi”
dalam peristiwa yang menggugurkan empat korban mahasiswa itu? Dan tidakkah
rencana presiden tersebut telah mendahului proses pengujian serta pembuktian
atas “apa yang sedang terjadi”?

Untung saja, peringatan
akhirnya keluar dari para korban, “Jangan sampai lompatan kardinal ini
melupakan hal yang esensial: mewujudkan
hak-hak korban
!“ (Kompas, 30/06/05). Sebaliknya, semoga korban semakin
yakin, kardinalisasi hanya soal waktu. Para korban seperti Marsinah, Udin, Wiji Thukul dan korban hilang paksa
lainnya serta Munir dapat dipastikan
sangat berhak menerima pengagungan dari negara, beberapa diantaranya telah
diakui dan diberikan penghargaan sampai ke tingkat internasional. Juga, sebuah
harapan akan kebijaksanaan bahwa Peristiwa Trisakti adalah bersama-sama dengan
Semanggi I dan II dengan satu benang merah: pengorbanan
mahasiswa dalam mengawal perubahan
.

Dan tentunya pencerahan
tentang pengagungan – penegasan kepahlawanan – yang sesungguhnya mengandung pengakuan akan ketidakmampuan kita untuk
menyamai apa yang mereka lakukan. Pada saat itu seharusnya kita malu – kita
gagal menjadi sepertinya. Pada saat itu pula seharusnya kita antusias – kita
merasa perlu melanjutkan perjuangannya, melestarikan semangatnya.

Desa
Krukut-Depok, 2-6 Juli 2005


Refleksi Wallace

August 4th, 2005 by rumputapi

                                                                      REFLEKSI WALLACE


Alfred_russell_wallace120Jauh
sebelum kita ada. Tepatnya, pada kurun waktu selama 1854-1862, seorang
naturalis Inggris bernama Alfred Russel Wallace datang dan menjelajahi
nusantara. Perjalanan itu dimulainya dari Semenanjung Malaka (Singapura),
Kalimantan, Jawa, Sumatera, lantas Bali, Lombok, Timor, Sulawesi, Maluku hingga
pedalaman Papua. Namun, Wallace datang dengan hipotesa – bukan sekedar
berwisata. Sejak awal, ia percaya bahwa nusantara, gugusan pulau (archipelago) yang dihimpit Benua Asia
dan Australia adalah satu kesatuan yang saling terkait – seolah-olah
penduduknya tengah mendiami sebuah benua. Persoalannya – yang kemudian menjadi
objek utama dalam penelitiannya - adalah bagaimana hal tersebut bisa terjadi?

Sea0000_fig64__wallace_line__whitmoore19_1Ketertarikan
Wallace ini kemudian membawanya pada temuan-temuan penting mengenai ratusan
ribu spesies, baik itu binatang maupun vegetasi yang sebelumnya tidak diketahui
orang. Catatan lain, yang juga tak kalah penting adalah uraian mengenai keadaan
demografis dan geologis nusantara yang semuanya terangkum dalam catatan
hariannya yang berjudul “Malay
Archipelago
” – yang kemudian diterbitkan pada tahun 1890 di London,
Inggris. Namun yang paling menggemparkan dunia adalah kesimpulannya mengenai
terbentuknya nusantara, bahwa nusantara dibentuk bersama dua benua: Asia dan
Australia.

Lebih
dari itu, hari ini kita mengenalnya sebagai pencetus teori “Wallace Line” (garis atau celah
Wallace). “Garis Wallace” sendiri – sebenarnya – merupakan garis khayal yang
bermula dari kepulauan Bali-Lombok hingga Kepulauan Sulawesi dan menerus hingga
Filipina Selatan. Menurut Wallace, kondisi fisik daerah-daerah dalam garis
tersebut (kepulauan Bali-Lombok, Sulawesi dan Filipina) merupakan transisi antara kontrasnya kekhasan Asia
(Semenanjung Malaysia, Sumatera-Singapura, Jawa-Madura dan Kalimantan) dan kekhasan Australia (Maluku, Timor
dan Irian). Kekontrasan ini ditegaskan dengan kesimpulan Wallace bahwa kondisi
geologis, vegetasi, flora-fauna, kedalaman laut hingga ras-ras manusia di
bagian Asia tidak pernah dimiliki oleh bagian Australia di kepulauan Nusantara
dan begitu pula sebaliknya. Yang menarik, pada bagian transisinya ternyata
muncul kekhasan tersendiri yang tidak dimiliki oleh dua bagian lainnya, baik
itu bagian Asia maupun bagian Australia.

Karya-karya
Wallace tersebut jelas bukan hal yang enteng,
esensi yang dibawanya, terutama dalam konteks identitas berbangsa dan bernegara
sesungguhnya amat berharga. Apalagi dalam rangka menyambut 59 tahun Indonesia
merdeka. Terutama setelah 150 tahun yang lalu, peristiwa ini terjadi – memaknai
kembali kehadiran Wallace di nusantara. Dari temuan-temuan Wallace kita
diingatkan kembali bahwa kita sangat
beragam – kaya akan perbedaan
. Kita pun menyadari bahwa nusantara (Indonesia) bukanlah sebuah bangsa yang terbentuk
secara mandiri – ia adalah perpaduan Asia dan Australia, ia adalah perpaduan
dari banyak kekontrasan
.

***

Bukti-bukti
inilah yang kemudian menjadi alasan utama Tan Malaka dalam karya besarnya, Madilog, memilih nama “Aslia” (gabungan
dari Asia dan Australia) bagi nusantara ketimbang nama “Indonesia”. Ia, sejak awal, telah mempertimbangkan
faktor perbedaan
. Tapi, sejarah memang hanya diperuntukan bagi orang-orang
yang menang. Malaka bersama gagasannya tenggelam seiring jalannya revolusi yang
kemudian membunuhnya. Sementara, Soekarno bersama pemimpin bangsa lainnya,
ditambah dengan kekuatan magisnya berhasil menyihir keberagaman, kekontrasan –
yang secara natural dan logika tidak mungkin menyatu – menjadi kekuatan
menakutkan bagi imperialis Jepang dan Eropa.

Kemudian
seperti kita tahu, 17 Agustus 1945 akhirnya melahirkan Indonesia – dengan nama
resminya: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Segera saja, dunia mengenalnya
sebagai negara-bangsa baru, setelah tiga setengah abad sebelumnya bernama
Hindia Belanda. Itulah karya terbesar Soekarno pada kita. Ia memang pandai
menyihir perbedaan, mengantisipasi kemungkinan konflik perbedaan esensial
dengan memindahkannya pada konflik kemerdekaan-kolonial melalui kenyataan
faktual. Singkatnya, ia berhasil mengajak kita melupakan kenyataan perbedaan
yang sesungguhnya: ideologi, fisik, dan kondisi alam.

Tapi,
Soekarno bukan tidak berusaha untuk merajut kebersamaan. Ide NASAKOM adalah
ikhtiarnya dalam merajut keberagaman ideologi yang ada. Sebuah gagasan inovatif namun melampaui jamannya. Sayangnya,
ditengah konflik perang dingin Timur-Barat, praktek gagasan ini ternyata
semakin sukar dikendalikan, ia pun akhirnya menyerah. Komunis Indonesia
berkhianat padanya dan yang lain melihatnya sebagai peluang untuk mengatakan
bahwa: “Soekarno terlalu tua, rapuh dan lembek untuk tetap menjadi presiden
kita.”

Generasi
pun beralih. Usai kegagalan Soekarno, Soeharto mencoba mengendalikan perbedaan:
merampingkan demokrasi, memperkuat stabilisasi dan meninggikan Pancasila lebih dari
sekedar ideologi. Sayangnya, ia overdosis
dalam menafsirkan prinsip “lebih baik mencegah daripada mengobati”. Segeranya
dibangun pagar pembatas tinggi untuk mencegah adanya perbedaan, bahkan untuk
sekedar membicarakannya. Yang nekat dan terlanjur kebablasan berarti menentang. Dan tentunya, harus dibungkam.

Akibatnya,
bagi beberapa orang yang lahir dan hidup pada masa itu – saat itu - hari 17 Agustus adalah hari yang membosankan
tentang upacara yang bertele-tele berikut dengan petualangan untuk menghindarinya,
berita televisi mengenai penaikan dan penurunan bendera, puja-puji pada
pembangunan serta keriaan klasik sekitar panjat pinang atau makan krupuk.
Begitulah mereka mengenal bangsa ini. Tidak segegap Soekarno ataupun sedalam
Malaka. Tidak juga sedetil Wallace. Sebab, upacara terbungkus dalam
seremonialisme yang artifisial dan monoton. Sebab, identitas bangsa diikat
dalam iklim yang monolitik dan sekaligus otokratik. Generasi ini relatif besar
dalam alam hipokrit. Sehingga hanya satu yang disukainya dari 17 Agustus: libur
nasionalnya!

Namun,
itu tidak sepenuhnya benar. Tidak semua orang berlaku demikian pada saat itu.
Tidak semua pasif dan duduk tenang menikmati hipokrisi. Ini jelas terjadi saat
dulu, yakni ketika doktrin persatuan sama dengan persamaan. Ketika wacana
perbedaan kerap dituding sebagai upaya makar. Kini, ketika reformasi menyilakan
– meski tidak mudah – setidaknya kita bisa leluasa menelusuri kesadaran akan
identitas Indonesia. Mereka-reka keakraban baru pada nusantara.

***

Dan memang tidak mudah.
Negeri sepeninggal Soeharto telah mewariskan banyak dendam dalam sekam. Yang
sewaktu-waktu bisa membakar amarah dan kerap sulit diredam. Sebuah
persinggungan dalam waktu singkat segera memercikan emosi. Entah karena harga
diri atau terpancing situasi. Yang pasti, pengumuman bahwa keadaan telah
terkendali sudah dianggap basa-basi. Mereka pun menciptakan pertahanan
sendiri-sendiri – yang justru mengeraskan dikotomi. Sementara, para pengendali
melihatnya sebagai peluang untuk promosi. Dan kondisi ini terbentuk bagaikan
rutinitas sehari-hari. Kita jadi hilang empati, apalagi mau berbagi.

Dan memang tidak mudah.
Sebuah kesempatan seperti amandemen
justru menjadi ajang menghitung untung-rugi, politik kalkulasi dan tebar
simpati. Yang akhirnya menelanjangi kerakusan dan nafsu dominasi dari
masing-masing kita. Dalam sekejap ke-asing-an menyergap. Baik yang di dalam
gedung kura-kura maupun di jalan raya. Sulit kita mengenal mereka sebagai
manusia dan pribadi yang mewakili ketidakadilan kita selama ini. Tapi dengan
gampang mata kita menangkap ambisi dan kepentingannya. Pribadi-pribadi mandat
kita ini tak lagi bernama. Ia berubah menjadi partai, organisasi, kelompok,
agama, demonstran anu dan itu. Dan
peristiwa ini pun berlalu sampai pemilu melahirkan lagi pemain baru. Kita pun
jadi hilang rasa percaya, apalagi harus setia.

Dan memang tidak mudah.
Sebuah gagasan federalisme sebagai komparasi justru dituding pengkhianat
negeri. Sebaliknya, kembali kepada NKRI seperti tidak mengerti reformasi.
Akhirnya otonomi jadi titik kompromi.
Sesekali daerah memang sempat lepas kendali, namun TNI melihatnya sebagai upaya
untuk memisahkan diri lalu segera menyimpulkan: pertahanan adalah harga mati!
Maka dimulailah operasi militer berbiaya tinggi. Tapi – sebaliknya – para
pengamat melihatnya sebagai sekedar upaya melindungi korupsi dan investasi luar
negeri. Akhirnya, publik sulit memastikan informasi – yang sesungguhnya mudah
dikenali: cukup dengan nurani.

Dan memang tidak mudah.
Mundurnya Soeharto bukan berarti Orde Baru telah mati. Justru mereka sedang
menanti-nanti - mencuri untung dari lambannya reformasi. Mereka berkata
sebaiknya kita kembali ke masa lalu karena reformasi tetap membuat dolar tinggi
dan sembako masih sulit dijangkau. Karena pornografi begitu mudah, pornoaksi
mewabah dan perdukunan makin disembah. Karena kerusuhan gampang pecah, teror
bom terus menebar gelisah dan bunuh diri mulai mengakhiri keluh-kesah. Mereka
pun menyergah: “Tidakkah kita lebih melarat? Bukankah sekarang rakyat makin
sesat? Dan haruskah kita terus tercekat?” Di lain pihak para pengusung
perubahan merasa ini sinyal untuk memulai revolusi. Mereka mengatakannya di
jalan-jalan, di badan bis kota, di bawah jembatan layang, dimana saja. Tapi
rakyat tetap saja tidak bereaksi. Tak peduli reformasi atau revolusi karena
yang penting adalah periuk nasi. Sehingga lagi-lagi kita harus puas dan
bersabar sebab demokrasi baru sekedar transisi.

***

Dalam
dunia yang modern, semuanya berkembang semakin kompleks. Demokrasi menyilakan
keinginan untuk unjuk eksistensi dan membebaskan afiliasi. Perbedaan-perbedaan
yang digambarkan Wallace sudah tidak berlaku lagi. Kita tidak hanya berbeda
dalam hal-hal yang pokok saja namun sudah berlanjut hingga turunan ketiga,
keempat dan seterusnya. Perbedaan pada urusan yang remeh seperti dukungan pada
kesebelasan favorit bisa membuat kita sensitif. Sementara, nasionalisme yang
seharusnya suci justru diimani tanpa emosi. Kita menangis ketika Inggris
tersingkir dari Piala Eropa namun dingin ketika Indonesia menuai kemenangan
pertamanya di Piala Asia. Kita berteriak mari cintai produk dalam negeri namun
tetap saja label luar negeri lebih bergengsi – dikejar meski bekas atau hasil
mencuri. Kontradiksi. Disatu sisi
kita ingin satu visi namun disisi lain kita semakin mandiri. Kita tidak peduli
ulama sebagai rujukan beragama mengatakan presiden perempuan haram – kita tetap memilih. Kita tidak peduli
pemerintah sebagai rujukan bernegara meminta hidup sederhana dan menunda
kemewahan – kita tetap membeli.

Jadi
integrasi itu sebenarnya apa? Buat apa? Masihkah ia hal yang penting? Sebuah
apel pagi penaikan bendera gerilyawan Aceh Merdeka di pedalaman Aceh Utara:
adakah itu mengancam kehidupan seorang pemijat di Kuta, Bali? Sebuah penemuan
tambang emas oleh Freeport di Papua: adakah itu merubah nasib seorang petugas
penjaga pintu KA di Bekasi? Demonstrasi anti korupsi di sebuah Departemen di
Jakarta: adakah itu menghentikan kita untuk menyuap polisi? Tidak. Semua itu tidak berhubungan.
Semua itu belum terkait. Integrasi kita masih terlalu sempit. Persis dengan
penaklukan yang dilakukan Sriwijaya dan Majapahit. Integrasi kita masih dalam
mimpi. Mirip dengan ambisi dan retorika Soekarno yang selalu tinggi. Integrasi
kita masih penuh cekam. Persis dengan sejarah pengendalian rejim Orde Baru yang
kejam. Integrasi kita masih dalam diskusi. Mirip dengan acara malam ini:
demokrasi di layar televisi.

Dengan
demikian, mungkin kehadiran Wallace 150 tahun yang lalu sebenarnya tidak
terlalu banyak berarti. Ia barangkali hanya sebuah pembuktian kemajuan
intelektual barat. Ia barangkali hanya sebuah pertunjukkan tentang tekunnya
seorang ilmuwan. Ia barangkali hanya sebuah gambaran keleluasaan kolonialisme
di nusantara. Tapi karya-karyanya seharusnya menyadarkan kita bahwa kita tidak
satu, kita tercerai-berai. Kita tidak sama, kita beraneka ragam. Sehingga
semestinya bukan persatuan yang dibutuhkan namun alasan untuk bersatu yang harus ditemukan. Bukan persamaan yang
dicari tapi perbedaan yang harus
dimaklumi
. Bukan pemberontakan yang ditumpas namun penyebabnya yang harus dipapas. Bukan kemajuan yang didahulukan
tapi penjelasan mengapa kita mundur harus dituntaskan.

Pada
tingkat kesadaran semacam ini kita tidak lagi berharap akan datangnya ratu adil
dalam figur para pemimpin dan politisi nasional. Kita tidak bisa terus-menerus
memuja uluran tangan internasional. Kita tidak selalu menunggu perintah. Kita
tidak harus menanti kepintaran. Kita tidak perlu tergantung pada keamanan atau
kemapanan. Karena yang kita butuhkan adalah barisan dan bukan pimpinan.
Pendirian, bukan pertolongan. Kesadaran, bukan instruksi. Nurani, bukan
kecerdasan. Vitalitas, bukan stabilitas. Bukan indonesia tapi INDONESIA.

Desa
Krukut, Gandul, 13 Agustus 2004

Biarkan Kami Bermimpi

August 4th, 2005 by rumputapi

BIARKAN KAMI
BERMIMPI


Kita adalah apa yang kita
impikan. Seharusnya, semestinya.
Sebab kenyataan lebih sering tidak klop
dengan harapan. Akibatnya, untuk mewujudkan mimpi, kita sering terpaksa melawan
kenyataan. Sulit sekali menyaksikan Takdir hadir dengan menggiring impian
seiring dengan kenyataan. Sehingga, akan lebih mudah mewujudkan impian yang
lebih “nyata” ketimbang menjalani kenyataan dengan penuh “mimpi”.

***

Saya – barangkali – termasuk
yang menjalani kenyataan dengan penuh “mimpi”. Dalam kenyataan itu, saya juga
berhasil menemukan kawan dengan pilihan yang sama. Kemudian, kita menjalani
kenyataan yang sama, yakni dengan
mengingkarinya
. Orang-orang seperti saya memang begitu. Berpikir sebaiknya
begini dan bertindak sebaiknya begitu. Kita jarang sekali berpikir sebagaimana
yang telah ada dan bertindak sebagaimana yang sudah ditetapkan. Kita gemar
membantah apa-apa yang ada dan yang ditetapkan. Kita menolak kepastian.
Imbalannya tentu saja sebuah ketidakpastian. Hidup dalam ketidakpastian pasti
bukan sesuatu yang aman – yang nyaman. Apalagi berharap bisa mapan. Begitulah,
hingga peradaban mengidentifikasi kami sebagai anti-kemapanan

***

Peradaban Amerika punya istilah
lain buat gerombolan anti-kemapanannya: kaum
bohemian
– penentang kaum yang lebih dahulu eksis, kaum borjuis. Bohemian
Amerika memberontakkan nilai-nilai baru sekaligus menganggap budaya borjuis
usang dan gagal. Mereka meninggalkan kemapanan yang mereka miliki maupun yang
seharusnya mereka peroleh. Sementara, borjuis Amerika bertahan sembari mengejek
budaya bohemian sebagai bentuk frustasi sosial. Kedua kaum ini saling menyerang
dan bertahan dalam keyakinan. Mereka sama-sama meng-klaim kemenangan.

Salah satu tokoh bohemian pada
dekade 70-an, Abby Hoffman menegaskan hal itu dalam pledoi-nya, “Dahulu kalian menganggap kami gila – kami bermimpi.
Namun hari ini – setelah Perang Vietnam terbukti salah, setelah pencemaran
terbukti makin bertambah, setelah banyak nilai-nilai kalian yang runtuh –
kalian harus mengakui bahwa kami benar.” Abby – yang ditangkap setelah
bertahun-tahun bersembunyi, mengganti identitas, berpindah tempat kemudian
dikenai berbagai tuduhan, mulai dari urusan kepemilikan narkoba hingga urusan
makar – akhirnya benar-benar menang: ia dibebaskan. Abby benar, publik Amerika
pun setuju. Potret Amerika ala “Little
House in the Prairie
” memang telah ditinggalkan masyarakat Amerika
kebanyakan. Gambaran anak-anak Keluarga Landon dan anak-anak Keluarga Brady
(Film Brady Bunch) – yang penurut
sudah terganti oleh para pemberontak seperti Dustin Hoffman (dalam film The Graduate) dan Tom Cruise (Risky Bussiness).

Tapi, borjuis Amerika tidak juga
terlalu khawatir. Abby mati bunuh diri. Kabarnya karena depresi. Slogan “Life Fast Die Young”, “Make Love Not War” dan gaya hidup “Psychedelic” dengan sendirinya mengancam
kesehatan bohemian. Kalau tidak bunuh diri karena depresi, sekarat karena AIDS
pasti overdosis karena narkoba.
Kebodohan perilaku bohemian ini membuat borjuis tetap merasa menang. Kata
mereka, ”Kami memang semakin sulit dengan kekalahan ini tapi kami yakin Amerika
akan menuai badai dan sejarah akan berbalik pada kami”, ucap Senator Charles H.
Keating – musuh bebuyutan Larry Flynt – usai kemenangan majalah porno Hustler di Mahkamah Tinggi. Hari ini,
Amerika memang mengalami masa-masa yang paling sulit, gambaran keluarga ala “American Beauty” yang serba kacau-balau
telah ditemukan dimana-mana. Film “Reality
Bites
” membuat anak muda Amerika mulai berpikir dua kali untuk menentang.
Pelawak Eddie Griffin menyebutnya sebagai “disfuctional
family
”. Kita pun segera menebak – kemenangan akhirnya bukan milik
siapa-siapa.

***

Tetapi David Brooks (Bobos In Paradise, The New Upper Class and
How They Got There
– 2000) mencoba lebih bijaksana menyikapi hal ini. Dalam
bukunya itu, ia berusaha mendamaikan pertentangan tersebut. Ia mensarikan
budaya bohemian dan budaya borjuis. Kemudian menyajikan pada Amerika sebuah
impian baru bernama: Bobo – perpaduan
bohemian dengan borjuis
. Brooks memulai cerita Bobo dengan tulisan yang
sangat provokatif – kalau boleh dibilang menggiurkan: “Jika Marx pernah menulis
bahwa borjuis mengambil semua yang suci dan menjadikannya profan (najis, kotor). Bobo mengambil segala sesuatu yang profan dan menjadikannya suci. Bobo
mengambil yang kotor dan materialistis dan mengubahnya menjadi sesuatu yang
tinggi. Bobo mengambil inti aktivitas borjuis, yakni belanja dan mengubahnya
menjadi inti aktivitas bohemian: seni, filsafat dan aksi sosial.”

Bobo
– kata Brooks – memiliki sentuhan kebalikan Midas.

Segala
sesuatu yang kita pegang berubah menjadi jiwa.

Bagi Brooks, bohemian Amerika
sebenarnya telah membuktikan keberhasilannya. Orang-orang seperti Bill Gates
(Microsoft), Oliver Stone (Produser-Sutradara), Marilyn Carlson Nelson (Carlson
Cos) dan Jeffrey Katzenberg (Dreamwork) sejatinya adalah seorang bohemian.
Sebaliknya, borjuis Amerika juga tanggap pada perubahan. Mereka tidak
sungguh-sungguh menentang bohemian. Mereka bertahan. Adalah Burger King yang
berkata kepada Amerika, “Kadang-kadang
Anda Harus Melanggar Peraturan
”. Adalah Apple Computer yang menganggap
penting “Orang-orang gila. Para
pemberontak. Para pembuat onar
”. Adalah Lucent Technologies yang
menggunakan slogan “Lahir untuk menjadi
liar
”. Adalah Nike yang mengimbuhkan kata “Revolution” untuk beberapa produknya.

Namun, kesuksesan bohemian
ternyata justru membawa dilema. Mereka terpana – menatap kenyataan yang
diimpikannya telah menjadi apa yang mereka musuhi di masa lalu. Mereka telah
menjadi kapitalis baru – kapitalis budaya
tanding
, kata Brooks. Microsoft ditentang dimana-mana, Oliver Stone,
Carlson Nelson, Katzenberg jadi kaum mapan baru – meski tetap unik dan nyentrik. Sementara, orang-orang seperti
Paris Hilton (Pewaris Hilton Corp.) justru tak sadar jika sedang mabuk budaya
bohemian. Dimasa kejayaan budaya WASP (White,
Anglo-Saxon, Protestan
), Amerika tidak pernah menemukan gaya hidup orang
kaya-mapan yang liar seperti Hilton bersaudara – berfoto telanjang, main film
porno dan hura-hura. Kedua kutub tersebut
pelan-pelan menemukan kejenuhannya
. Itulah sebab mengapa Woodstock 1999
yang dianggap gagal – kehilangan elan-nya karena terlampau manja pada sponsor
(Coca Cola, McDonalds dan lain-lain) – tetap saja ramai dihadiri orang-orang.
Itulah sebab mengapa sebuah orchestra
bisa bekerjasama dengan hingar-bingar Metallica dan lagi-lagi bisa diterima
publik. Itulah sebab mengapa seorang hiperseks seperti Bill Clinton tetap
menang dalam putaran kedua pemilihan presiden. Karena publik hari ini di
Amerika adalah rekonsiliasi Borjuis-Bohemian. Mereka adalah generasi Bobo, kata
Brooks. 

***

Namun Indonesia tidak begitu
rupanya. Jangankan bobo – antara borjuis dan proletar saja tidak pernah jelas
dalam sejarah kita. Meski borjuis dan proletar mengemuka pada jaman revolusi
kemerdekaan namun pertentangan kelas sesungguhnya tidak pernah terwujud. Soekarno
boleh saja bersumpah bahwa ia benar-benar pernah bertemu dengan petani bernama Marhaen
– yang kemudian mengilhaminya untuk membentuk kelas proletar ala Indonesia
bernama Marhaen berikut ajarannya bernama Marhaenisme. Tapi toh sejarah membuktikan bahwa kelas
Marhaen tidak pernah sekalipun
melawan kelas manapun. Soekarno mestinya jujur – jka melihat jenjang pendidikan
yang dicapainya dan selera yang diminatinya – ia sesungguhnya termasuk kaum
borjuis. Marhaen hanyalah retorika Soekarno untuk mengambil simpati kelompok komunis.

Partai Komunis Indonesia juga
boleh merasa pernah mengkonsolidasikan kelas pekerja (buruh-tani). Mereka pun
pernah mencoba kudeta. Dua kali. Tahun 1948 dan 1965 namun keduanya gagal. Tapi
saya meragukan bahwa kudeta PKI adalah pertentangan kelas. Kegagalan kudeta
menunjukkan bahwa pertentangan kelas yang diharap-harap PKI lebih berorientasi
pada kekuasaan – bukan kebudayaan. Sehingga yang terjadi adalah retorika elit PKI untuk berkuasa secara
absolut
. Saya bahkan meragukan adanya kelas proletar di Indonesia semasa
PKI berjaya. Sebab, diantara semua elit PKI hanya Syam yang benar-benar lahir
dari komunitas buruh (semasa mudanya, Syam adalah kuli pelabuhan di Tanjung
Priok) sementara yang lain adalah kelas terdidik yang kepincut komunis –
terpukau oleh Revolusi Bolshevik (Rusia) dan Revolusi Kebudayaan (Cina). Yang
jelas, PKI telah gagal menciptakan budaya
tanding
.

Jadi memang sulit merefleksikan
apa yang terjadi di Amerika dengan Indonesia. Bagi saya, persoalannya ada pada
“identifikasi”. Indonesia memang pernah memiliki penguasa yang dapat dengan
mudah menyingkirkan ambisi perubahan. Kita memang pernah menjumpai orang kaya
yang punya mobil mewah, rumah megah dan harta berlimpah serta hidup penuh
hura-hura. Kita memang punya pemimpin agama yang enteng mengeluarkan fatwa demi kepentingan politik, yang gemar
mengajak damai tapi mudah diadu-domba. Namun apakah semua itu dapat dipastikan
sebagai tindak-tanduk borjuisme? Dan sebaliknya - apakah semua orang miskin,
orang bodoh dan orang tertindas pasti adalah proletar? Tidak – saya jawab dengan tegas. Borjuis dan proletar hanya ada
dalam konteks “perlawanan” dan “benturan”. Selama orang miskin pasrah dan bodoh
bukan masalah maka tak akan pernah jelas siapa yang menindas-siapa yang
tertindas. Selama tidak ada pertentangan maka kelas sosial selalu dalam kondisi
larut.

Kalaupun prasyarat pertentangan
terpenuhi – perlawanan terbentuk dan benturan telah terjadi, kunci selanjutnya
ada pada “budaya tanding”. Jika kelompok yang melawan kemapanan tak mampu
menghasilkan budaya yang kompetitif maka kelompok tersebut hanya akan melakukan
pertarungan politik biasa. Hasilnya pun, juga biasa, cerita lama tentang alih
kekuasaan – sekedar regenerasi borjuis. Perlawanan inilah yang dilakukan oleh
bohemian Amerika. Mereka tidak sekedar melawan secara politik namun secara
serius memproduksi budaya tanding kemudian mempraktekannya. Mereka bisa berasal
dari kelas sosial mana pun, tidak terbatas pada kelompok terdidik, selama
se-ide dan mau berkompetisi dengan kemapanan.

Nah, soal urusan rekayasa budaya agaknya kita
mesti mengacungkan jempol pada Soeharto. Ia berhasil menciptakan budaya
otoritarian yang nyaris tanpa penentangan yang cukup berarti. Setiap upaya penentangan
pasti diredam dengan tanpa menimbulkan protes dan simpati yang berkelanjutan.
Masyarakat sebentar berteriak tapi kemudian kembali normal lalu dengan mudah
melupakan – memaafkan. Dan memang, budaya masyarakat otoritarian selalu begitu.
Mereka lebih berorientasi pada keamanan, ketertiban, ketentraman, kenyamanan
dan kestabilan. Orang-orang semacam ini – oleh Alex Inkels dikatakan – sangat
tergantung pada otoritas. Mereka tidak akan melakukan inisiatif jika tidak
punya wewenang dan tidak diperintahkan. Pasif, takut untuk mandiri dan enggan
berbeda. Orang-orang ini juga sulit menerima perubahan atau sesuatu yang baru.
Soeharto memang sudah lengser tapi kesuksesannya masih bergema. Ini dapat
terlihat dari ekspektasi masyarakat hari ini – Pemilu Pilpres 2004: mereka kembali memilih ketentraman,
kenyamanan dan stabilitas serta sekaligus mempertahankan kepasifan
.

***

Fakta-fakta semacam ini
menunjukkan – seharusnya – pilihan untuk menjadi bohemian, berani berbeda, menolak kemapanan dan hidup dengan mimpi
di Indonesia adalah tidak tepat atau bahkan mesti dihindari. Tapi nyatanya
tidak. Orang-orang seperti ini terus saja lahir dan besar – meski nantinya toh mati. Kemarin lalu dua orang jujur –
Pak Mochtar Lubis dan Pak Hoegeng – meninggalkan kita, menghadap Sang Khalik.
Pak Mochtar Lubis adalah wartawan yang menolak ikut arus – ia teguh pada
nurani. Ketika orang-orang takut Soeharto, dia tidak turut. Ketika orang
menyembah-nyembah Soekarno, lewat tulisan – dia malah marah-marah. Pak Hoegeng
juga begitu. Ia menolak sogokan untuk beralih ke duta besar dari jabatan
Kapolri, setelah dicopot Soeharto hanya karena ia terlalu jujur dan berani - dua
sifat yang bertentangan dengan “kemapanan Indonesia”. Nasib orang-orang ini
juga hanya begitu: dipuja-puji namun tetap saja diasingkan dan dikucilkan -
dipenjara. Sejenak, orang dapat dengan mudah kagum dan takjub pada mereka namun
untuk menjadi “mereka”, nanti dulu.
“Stabilitas bisa terganggu”, begitu alasannya -tentu

Dengan demikian, wajar saja jika
peristiwa “pengkhianatan intelektual dan moral” terus berulang di Indonesia.
Para aktivis mahasiswa yang dahulu mengecam habis Golkar-Orde Baru akhirnya toh melebur juga kedalamnya. Para
pengamat, akademisi dan wartawan yang dahulu terlihat bulat netral akhirnya
semakin jelas kearah mana lonjongnya. Satu-satunya yang seharusnya tidak perlu
dianggap suatu fenomena adalah ketika industri budaya dengan segala
selebritasnya masih terus bergumul dengan popularisme karena memang selama ini
gagal berbuat banyak pada budaya nasional. Mereka pada akhirnya patuh pada
naluri publik yang “pasti-pasti saja”.
Publik yang pasti lebih menggemari
sesuatu yang sopan, tenang dan berwibawa ketimbang yang kritis, meledak-ledak
dan apa adanya. Publik yang pasti
maha pengampun dan tidak pernah kapok. Itu sebabnya mengapa negeri ini tidak
pernah mengadili seorang presiden pun meski ia berhasil kita jatuhkan dan telah
mengemuka kesalahannya. Itu sebabnya mengapa orang-orang yang tinggal di daerah
rawan banjir tetap kekeuh tak mau
pindah namun tidak juga berbuat sesuatu untuk lingkungannya. Kebanyakan orang
memang sadar bahwa cara terbaik untuk
tetap hidup adalah berdamai dengan kenyataan dan tunduk pada nasib
.

Fakta-fakta seperti ini juga
yang mungkin membuat banyak bohemian
Indonesia menjadi lebih lunak. Lingkungan dimana saya berinteraksi misalnya,
sering berkumpul anak-anak penggemar musik underground,
aktivis-aktivis kemanusiaan, pro-demokrasi, anti-globalisasi dan semacamnya.
Mereka – boleh-boleh saja mengaku bohemian
hanya karena merasa punya prinsip dan cita-cita mulia. Tapi pada kenyataannya,
mereka (dan saya) masih menikmati fasilitas-fasilitas kaum borjuis. Kami masih
menyukai nongkrong di café (meski
saya tidak terlalu sering) dan juga masih tunduk pada busana necis kala harus
menghadiri acara formal. Bahkan – jika mengukur dari produktivitas –
sesungguhnya kami malah proletar. Kebanyakan para aktivis itu belum mampu
menciptakan kemandirian berekonomi - masih bergantung pada kekerabatan (numpang
mertua, ikut kakak atau terkadang malah menetap di sekretariat). Sehingga
secara satire kami sering
menertawakan diri: “Kepala boleh saja Marxis, hati boleh Gandhi tapi perut
tetap saja ingin borjuis!”

***

Pada akhirnya kita harus
mengakui bahwa menjadi bohemian di Indonesia memang sulit. Ia sepertinya bukan pilihan tapi pengorbanan. Kalaupun kita rela,
jumlahnya tetap saja terlalu sedikit – itupun tidak terkonsolidasi dengan baik.
Jadi jangan berharap mencapai kesuksesan disini. Itu perlu waktu lama dan
bahkan anda bisa tak sempat menikmati. Kita juga tidak bisa serta merta mengaku
telah menjadi bobo karena kaum bobo hanya lahir ketika bohemian mencapai
kemapanan dan borjuis mencapai kejenuhan. Bohemian Indonesia belum matang dan
para borjuisnya tak pernah merasa bosan.

Ketika kita menyadari ini semua,
pelan-pelan angin keputusasaan mulai membelai. Haruskah kita berhenti bermimpi?
Inikah saatnya kita melempar handuk kekalahan? Waktunya untuk menyerah? Terserah. Sebab, tidak mudah juga
menghapus mimpi, mengubur harapan dan menghentikan hasrat untuk berbuat. Para
bohemian Indonesia ini mengatakan pada saya, “ini soal cinta, bung!”. Yang lain
menegaskan dengan agak angkuh, “Ini soal tanggungjawab dan moral”. Kawan saya
di milis coba melembut, “Ini soal pilihan, John.”

Dan itu memang benar. Orang-orang
seperti mereka, para bohemian Indonesia – yang jarang dihampiri kemenangan –
sesungguhnya tidak pernah mengerti “kalkulasi”, “kesempatan” dan “kemampuan”.
Mereka bodoh dalam menghitung untung-rugi, menilai kesempatan dan mengukur
kemampuan. Mereka adalah orang-orang yang sangat mendahulukan proses –
mengabaikan hasil. Bahagia dalam pengorbanan – seolah menikmati penderitaan.
Mereka – sepintas – seperti seperti sadomakis.
Mungkin begitu yang lain mengejeknya. Biarlah.
Bukankah, Foucault mengatakan itu variasi
dari kesenangan

Para bohemian Indonesia memang
tak perlu menanggapi pelecehan itu. Kita tak harus memusuhi mereka. Kita tak
bisa merasa lebih suci dari mereka. Kita bukan siapa-siapa. Kita belum apa-apa.
Cukuplah kita “nyenyak dalam bermimpi”. Biarkan.
Jangan dibangunkan. Karena dunia
butuh mimpi – terutama ketika kenyataan sudah mulai membosankan – agar hidup
tidak sekejap lalu mati. Kita butuh harapan supaya gairah tetap berarti. Kita
butuh doa supaya Tuhan terus ada di hati. Meski begitu, tidak perlu alasan yang pasti dalam meyakini mimpi. Ini kesimpulan – buat saya, tapi mungkin
saja tidak – buat anda.

Untuk itu dengarkan saja alasan Butet
Manurung yang meninggalkan gelar sarjana dan mendedikasikan hidupnya untuk
mengajar anak rimba di di pedalaman Sumatera, “Ini bagian dari cita-cita masa
kecil saya: menjadi Indiana Jones.” Atau Edmund Hillary – sang penakluk Puncak
Everest, saat ditanya mengapa harus mendaki, “because it’s there – karena ada gunung, karena gunung ada.”
Sesederhana itu. Sebegitu saja. Cukup.
Tak perlu jelas makna, sarat cerita dan masuk logika. Wallahualam bi shawab.

***

(Ini untuk kamu yang terus
mempertanyakan cintaku)

Desa Krukut, Gandul, 27 Juli
2004

Kehidupan Yang Memaknai Munir

August 3rd, 2005 by rumputapi

KEHIDUPAN YANG MEMAKNAI MUNIR

 

555490509_4Orang jahat itu tidak
pernah bertambah.

Orang baik pun tak
pernah berkurang.

Hanya saja: orang baik yang berani memang tidak banyak.

 

 

Selasa siang tadi, aku
terpukul dua kali. Pertama, meski
sudah diantisipasi namun rapat pleno DPR-RI akhirnya mengesahkan RUU KKR
(Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi). Kedua,
datangnya informasi tentang wafatnya kawan kami, Munir. Mendengar berita ini, keluarga korban kekerasan negara di
masa lalu dan para aktivis kemanusiaan yang berkumpul di Sekretariat KONTRAS
sontak mengadakan hening cipta, kemudian dengan tergopoh-gopoh semuanya
berangkat menuju rumah duka. Disudut ruangan, Usman Hamid – Kordinator KONTRAS sedang mengumpulkan kekuatan dan
memilih-milih kata yang tepat untuk mengabarkan berita ini kepada Ibu Suci – istri Cak Munir. Yang lain,
sibuk mencari informasi tentang proses kematiannya. Rencana untuk menyikapi RUU
KKR yang tidak memihak korban akhirnya batal – kami memilih merespon pukulan
kedua.

 

Aku pun setuju.
Kematian Cak Munir lebih menyakitkan daripada pengkhianatan anggota DPR-RI,
gonjang-ganjing Pilpres babak kedua atau Pesta Olahraga Nasional. Bahkan
mungkin setara dengan orang-orang yang dibelanya – orang-orang yang hilang
paksa, aktivis yang dibunuh, mahasiswa yang tertembak, buruh-tani yang
dicurangi dan semacamnya. Orang-orang itu kebanyakan adalah korban. Dan sejatinya, korban selalu menempati lubang masa lalu
(past hole). Dia ada karena sebab
yang mendahuluinya. Dia muncul ketika peristiwanya telah berlalu. Dan pastinya
mengandung ke-kuno-an di setiap kekinian – seolah bukan hal yang penting lagi.
Apalagi bagi yang ingin buru-buru menyongsong masa depan.

 

Apapun itu, yang
jelas di dalam “lubang”, para korban
memikul luka dan penasaran yang mendalam. Luka berupa kehilangan sanak-saudara,
nafkah, nama baik atau memar dibadan yang hilang namun meruam sampai kedalam
hati. Mereka penasaran akan keadilan yang seharusnya: bahwa membunuh orang,
menghilangkannya, menyiksa dan berbuat curang adalah salah – tidak benar. Pernyataan dan kenyataan
itulah yang mereka butuhkan – bukan sekedar gagah-gagahan soal memaafkan, islah atau berdamai. Dan Cak Munir
memilih berkubang didalamnya: mengungkap kebenaran dan berupaya memastikan
keadilan di masa lalu. Beliau tidak mempedulikan resiko yang kemudian terkait,
bahwa hal itu mengganggu stabilitas, melawan dominasi, menimbulkan
antipati-kontroversi bahkan menyinggung kawan pribadi atau harus berjalan
sendiri.

 

Hari ini, ketika Beliau
sudah pergi. Aku tak mau terperangkap dalam sunyi. Aku tak sudi menjadikannya
hal yang sepi. Kematiannya mesti menjadi sesuatu yang penting. Persis dengan
misinya ketika masih hidup. Mungkin tidak semua upayanya berhasil terungkap.
Mungkin tidak sepenuhnya keadilan dapat ia rengkuh. Tapi, sejarah bangsa mesti
mencatat: Ia telah membuat suatu yang lalu menjadi persoalan kini dan menjadi
pertimbangan di masa depan. Ia telah memberi makna pada “masa lalu” yang
mendesak pada “masa kini” dan setara untuk “masa depan”.

 

Maka kepadamu, Cak, aku
bertekad. Aku tak mau menangis. Aku tak ingin lama-lama memendam duka. Aku
memilih mengobarkan semangat, menularkan keberanian dan menuntaskan
ketertundaan yang Cak Munir perjuangkan. Karena kami ingat pesanmu, Cak! “Hanya
kepada yang hidup, kita dapat menggantungkan harapan. Hanya kehidupan yang dapat memaknai sebuah kematian.” Innalillahi wa’ inna ilaihi roji’un.

 

 

Desa Krukut-Gandul, 7
September 2004

 

 


Manusia Reuni

August 3rd, 2005 by rumputapi

MANUSIA
REUNI

 

 

Manusia punya cara unik untuk mendramatisir
kehidupan sosialnya. Mereka membangun nilai-nilai yang kemudian mempersulit
diri mereka sendiri. Diciptakannya status sosial berjenjang-jenjang lalu
berpayah-payah menggapai puncaknya. Beberapa, memang berhasil, tapi – berani
taruhan – jauh lebih banyak yang gagal. Seumur hidup, mereka dikejar-kejar
tuntutan ideal itu. Mereka buat relasi sosial yang rinci dan njlimet tapi toh, kemudian dikhianati sendiri. Dan hari ini kita menyaksikan
betapa manusia sangat kewalahan.

 

***

 

Ketika agama dihadirkan - status sosial
dipercayai, para penafsir dan pengiman itu barangkali tidak memprediksikan
pertentangan dan kemajuan relasi sosial yang mungkin terjadi. Contoh yang saya
senangi adalah cerita cinta. Kawan saya punya pengalaman pahit akibat mengimani
agama. Ia dikucilkan keluarganya karena mencintai pria berbeda agama. Segera ia
dihadapkan pada beberapa opsi. Saya berusaha membantu, jika nekat pindahlah
agama dan kalau pintar coba dulu selingkuh. Akhirnya ia pilih kuburkan cintanya
– yang satu-satunya dan hidup dalam kekecewaan. Itu contoh pertama.

 

Contoh kedua adalah cerita kawan saya yang
lain. Ia mencintai pria yang nyaris sepantar pamannya. Kebetulan sekali, pria
itu lebih berkecukupan dan ia tidak. Tidak ada hambatan berarti. Agama cocok,
obrolan nyambung, kesetiaan teruji.
Hambatan hanya ada di awal hubungan, saat keluarga enggan melepasnya. Tapi itu
dapat diatasi. Persoalan justeru terjadi pada dirinya. Ia terlalu ragu untuk
memahami cinta. Sebagai perempuan terpelajar, mandiri dan cantik, gengsi
kemudian menekannya habis-habisan. Terlebih, bisik-bisik “matre” sudah tersebar
kemana-mana. Ia pun memilih membunuh cintanya – satu-satunya dan hidup dalam
penyesalan. 

 

Kita pun segera mengakui – pada akhirnya
agama, negara, aturan, tradisi, status, relasi dan sebagainya adalah karya
manusia yang sulit didamaikan. Semua
karya sosial itu terus bersinggung, menciptakan irisan didalamnya kemudian
memaksa kita bernegosiasi. Contoh pertama adalah kisah persinggungan antara
relasi dengan agama. Contoh kedua adalah persinggungan antara relasi dengan
status dan opini masyarakat. Kita tentunya dapat menambahkan kisah-kisah
persinggungan lain, tapi saya lebih ingin fokus pada satu soal. Tentang pertemanan

 

***

 

Beberapa waktu yang
lalu, sebuah situs mendadak populer.
Namanya
Friendster. Situs ini melayani anda
untuk berhubungan dengan teman lama dan teman baru. Friendster mirip “buku
kenangan” semasa kita di bangku sekolah dasar. Ia mengijinkan anda untuk
menjelaskan diri mulai dari nama, pekerjaan, sekolah, favorit dan hobi. Anda
bisa mengatur siapa yang pantas dan tidak untuk menjadi teman. Kenikmatan situs
ini adalah ketika anda mendapatkan respon orang lain tentang anda dan bisa
mengintip orang lain berikut hubungan pertemanannya. Itu saja. Yang lain, meski kalah populer dari Friendster adalah
situs Blog. Hampir mirip Friendster,
situs ini melayani anda untuk mengisi apa saja yang anda suka namun Blog lebih
seperti buku harian atau galeri yang bisa diintip oleh semua orang. Selebihnya,
fasiltas yang nyaris sama. Kenikmatan situs ini terletak pada komentar-komentar
orang terhadap anda dan karya anda. Itu
saja
.

 

Kehebohan Friendster dan Blog menunjukkan
kita tentang deviasi dari dramatisasi sosial. Yang menonjol adalah hasrat manusia akan afiliasi dan eksistensi. Pertemanan diukur dari
kuantitas – seberapa banyak anda memiliki teman atau seberapa banyak orang
ingin berteman dengan anda. Sebagai contoh adalah Sophia Latjuba yang sudah dua bulan ini telah menjadi teman saya.
Barangkali, Sophia adalah orang yang baik hingga mau men-apply saya sebagai temannya. Padahal saya belum tentu cocok
dengannya bahkan bertemu saja tidak pernah. Sebaliknya, bagi Sophia, John-John
hanyalah salah satu seorang fans. Padahal
tidak juga, saya cuma iseng men-add-nya.
Alhasil, saya tidak bisa mengukur kualitas pertemanan dengan dengan Sophia.
Tapi, Friendster memvonis kami telah berteman. Situs Friendster, Blog dan
sejenisnya juga telah mengikat kita pada komunitas. Kita bisa temui alamat
alumni, perkumpulan ini dan anu yang pada saat kita sudah tergabung menunjukkan
bahwa manusia tidak saja butuh afiliasi interpersonal namun butuh pula afiliasi
kelompok. 

 

***

 

Maka ketika datang rencana tentang reuni
kawan-kawan seangkatan semasa kuliah, saya seolah tidak terlalu peduli – selain
memang sibuk dengan aktivitas pribadi. Bahkan, boleh jadi setelah kita membaca
uraian diatas kita bertanya-tanya, “dramatisasi sosial macam apa lagi ini?”.
Apakah ini juga akan jadi ajang eksistensi diri dan unjuk afiliasi? Entahlah,
karena yang jelas selama mengikuti beberapa kali rapat panitia, saya
menyaksikan gairah yang menggebu-gebu hanya untuk sekedar mengumpulkan teman
lama. Dan hura-hura tentunya.
Teman-teman yang sepuluh tahun lalu pernah bersama-sama. Meski pada
kenyataannya, “kebersamaan” itu tidak persis terjadi karena – seingat saya –
kami tumbuh dari komunitas kecil yang tersebar. Beberapa diikat oleh kelas,
beberapa disimpul oleh tongkrongan
atau kecocokan pertemanan dan sisanya tak jelas teman siapa dia. Benak pun
mulai ragu: “Akankah ini menjadi perlu?”

 

Tapi, toh
rapat reuni ini jalan terus meski dukungan pada panitia dan antusiasmenya
akhir-akhir ini cenderung melesu. Kabarnya, ini karena panitia didominasi
kelompok tertentu. Kabar lain karena memang sejak lama rasa kebersamaan kita
semu. Kabar lain lagi mengatakan kesibukan pribadi membuat sulit bertemu. Lebih
parah lagi, yang menganggap reuni tidak terlalu perlu. Pada titik lesu semacam
ini, saya benar-benar peduli – mau tidak mau. Saya pun ikut rapat meski lebih
banyak mengacau ketimbang membantu. Saya pilih membaur meski suasana sudah jauh
berbeda dengan dulu. Saya biarkan benak tumpul sejenak membatu – menyilakan
nurani terdramatisir oleh masa lalu. Dalam hati mengutuk, “Persetanlah dengan
motif eksistensi, motif afiliasi dan segala teori pembebasan itu!” 

 

***

 

Karena memang, saya
akan hadir ke reuni sebagai manusia.
Manusia
yang berhak kangen, berhak mencinta dan berhak bersimpati. Manusia yang berhak
memilih kawan dan menentukan musuh. Itulah manusia dan saya adalahnya. Yang
menciptakan nilai-nilai meski sulit mencapainya. Yang menciptakan aturan meski
sulit mematuhinya. Yang bebas bercita-cita dan berharap. Saya sendiri tidak
akan bermuluk-muluk soal relasi sosial yang ideal seperti kekompakan,
kebersamaan atau kesatuan dalam reuni nanti. Saya malah ingin meresapi semua
perbedaan diantara kita. Menikmatinya sebagai keunikan yang lain. Menjadi
manusia yang menerima segala kewalahan. Saya hanya ingin memenuhi hasrat
keingintahuan tentang kabar dan rupa teman sejak beberapa tahun berpisah.
Membangun pertemanan yang rasional. Itu
saja
. Lalu, dalam hati setengah bersorak, “I need reunion because I am human!”

 

 

 

 

Desa Krukut-Gandul, 6 Juli 2004

 


 

 

Ketika Ingatan Saja Tidak Cukup

August 3rd, 2005 by rumputapi

12 MEI
1998 SUDAH BERLALU. Begitu pula dengan 12 Mei tahun ini.
Tapi, perjuangannya masih
ingin eksis. Meski harapan begitu tipis, meski rintangannya sangat berat, meski
kenyataan yang harus dihadapi adalah ketidakmungkinan, perjuangannya ini tetap
jalan terus. Naif?

 

 

KETIKA
INGATAN SAJA TIDAK CUKUP!

 

 

“masa
lalu dibatasi oleh kalender,

ia
hanya mampu dikekalkan oleh ingatan.”

 

 

TETAPI
INGATAN PUNYA KARAKTER UNIK. Sembarangan menempatkannya maka ia jadi mudah
dilupakan, sebaliknya mengistimewakan suatu ingatan membuat ia melupakan hal
yang lain. Peristiwa 12 Mei 1998 dalam perspektif ingatan dan masa lalu juga
memiliki imbas yang sama, yang menempatkan para pelakunya dalam situasi yang
serba salah. Pilihan untuk melupakan jelas tak mampu menghapus rasa bersalah
dan melepaskan diri dari tanggungjawab namun merekamnya dalam bingkai yang
terlalu besar kerap meneror dan menjauhkan diri pada masa depan.

 

Dalam
diskusi kami tentang salah satu keluarga korban peristiwa 12 Mei 1998 dengan
pihak PULIH sebagai konselor telah membuka pemahaman lain dari peristiwa ini. Menatap
lebih dalam sisi humanis suatu kasus – kasus yang selama ini dimaknai sebagai
kasus politik (atau hukum) yang teramat dominan. Saya menyaksikan benar
bagaimana seseorang yang tak lagi mampu menggapai masa depannya karena begitu
obsesifnya terhadap peristiwa masa lalu yang dialaminya.

 

Itu
pula yang – awalnya – membantu saya untuk menjelaskan mengapa terus terlibat
dalam kasus ini. Sebab, saya sebagaimana aktivis lain yang terlibat dalam
peristiwa 12 Mei 1998 juga merasakan hal yang sama, yakni rasa bersalah dan terus
dikejar tanggungjawab. Bagi saya, aktivitas ini adalah bagian dari penyembuhan.
Dan saya meyakini bahwa kesembuhan total hanya dapat diraih dengan keadilan
mutlak. Bukan hanya sekedar merekam peristiwa (ingatan) dalam kenangan.

 

Persoalannya
adalah ketika seseorang yang tak punya kenangan apapun dan hanya memiliki
ingatan yang terbatas tentang 12 Mei 1998. Seperti kawan-kawan mahasiswa saat
ini atau masyarakat kebanyakan yang memang tidak pernah mengalaminya. Mereka
barangkali sanggup merekam peristiwa tersebut dalam momentum perhatian (rekaman
visual) namun tetap saja sulit merajutnya dalam rekaman emosional. Akhirnya,
yang nampak kemudian adalah segerombolan orang yang sibuk mengatur barisan tapi
seperti tak tahu untuk apa barisan tersebut dibentuk. Tapi ini tentunya lebih
baik daripada orang-orang yang lari dari hiruk-pikuk persoalan.

 

Pada
akhirnya, keyakinan ini sudah cukup membawa kita pada kesimpulan yang sangat
sederhana: tidak merasakan maka sulit
bergabung atau tidak merekamnya maka akan mudah melupakannya.
Begitulah
jika kita bicara perjuangan untuk kasus-kasus masa lalu. Benarkah ini?


Mulanya
saya yakin betul bahwa ini adalah akar masalah dan penjelasan mengapa saya
masih menyibukkan diri pada persoalan ini. Bahkan saya sempat meyakini bahwa “ingatan”
adalah dasar untuk menentukan mengapa orang terlibat dan tidak terlibat pada
perjuangan ini. Bagi saya saat itu, persoalan mengarah pada dikotomi antara “kelompok
ingat” dan “kelompok lupa”.

 

NAMUN,
TERNYATA SAYA KELIRU. Kesimpulan itu pun menjadi gugur dan justru harus
dihancurkan. Saya keliru bahwa ingatan adalah segala-galanya dalam penuntasan
kasus ini. Saya salah jika mengira keterlibatan kita semua pada kasus ini
dikarenakan rekaman emosional. Masa lalu tidak hanya dikekalkan oleh ingatan
semata-mata. Kekalnya sebuah ingatan tidak selalu membawa radikalisasi. Rekaman
emosional yang jernih dan tertata tidak selalu menggiring pada kepedulian.

 

Kita
sebenarnya tidak menyaksikan segerombolan orang yang hanya sibuk membentuk dan
mengatur barisan. Bukan. Bukan hanya itu.
Hari ini, sesungguhnya kita semua ditunjukkan segerombolan orang yang sedang membangun
kepercayaan dan memupuk keyakinan.
They are making believe. Mereka bukan sembarang
orang. Mereka adalah orang-orang percaya bahwa kebenaran dan keadilan itu ada serta
harus di-ada-kan. Mereka adalah orang-orang yang tak mau menerima kenyataan bahwa
ketidakbenaran dan kesewenang-wenangan masih bercokol di negeri ini.
Mereka bukan sekedar menghimpun dan menebar harapan, namun lebih dari itu,
bagi mereka harapan sudah harus diberontak-kan!

 

Jadi, motivasi adalah
segala-galanya.
Ialah yang mengumpulkan dan membentuk kami
dalam barisan. Dia pula yang memanggil kawan-kawan yang notabene tidak punya ingatan
emosional apapun pada kasus ini untuk memperjuangkan hak-haknya. Saat kasus
itu, mereka masih duduk dibangku SMU, tapi toh hari ini justru mereka yang mendominasi
perjuangannya. Sementara, orang-orang yang terlibat langsung justru surut ditelan
kebanggaan memorialnya. Pembedaan yang tepat untuk hal ini adalah “believer” dan “not believer”. Dengan demikian, perang melawan lupa menjadi
pertempuran yang tidak terlalu penting lagi. Pertempuran sesungguhnya adalah memerangi
ketidakyakinan.
Perang
melawan keputusasaan.

 

KEMUDIAN SAYA MENJADI INGAT.
Dalam kondisi perjuangan menuntut keadilan, fase lack of spirit and degradation of morale pasti akan terus
menghantui kita. Mulai dari degradasi konsentrasi, tuntutan, motivasi hingga
moral. Dalam kondisi ini keadilan tidak lagi menjadi penting, justru ketenangan
dan apresiasi yang lebih mengemuka. Secara psikologis, ini alamiah dan sangat manusiawi
namun tetap harus dilawan. Begitu pula dengan kasus 12 Mei 1998, perbedaan motivasi
akan menentukan karakter tuntutan hingga perjuangan. Motivasi kita harus
berkembang secara positif. Kita tidak lagi berjuang atas nama ingatan. Kita
tidak bekerja akibat rasa sesal dan panggilan tanggungjawab saja. Juga bukan hanya
karena prihatin dan simpati pada keluarga korban.
Lebih, lebih dari itu. Harus lebih dari semua itu.   

 

 

 

 

Gandul,
17 September 2003

(salut
dan terima kasih untuk kawan-kawan
yang setia dalam perjuangan ini)

Selamat Jalan, Pak Boy

August 3rd, 2005 by rumputapi

AKU INGIN MEMBAGI DUKA.
Jumat, 3 Januari yang lalu, ayah kami yang juga sahabat dan panutan kami wafat
serta meninggalkan kami. Beliau adalah Alm. Pak Bagus Yoga, yang akrab
kami panggil Pak Boy. Beliau adalah ayahanda Alm. Elang Mulya Lesmana – salah
satu dari keempat korban yang gugur pada demonstrasi mahasiswa 12 Mei 1998.

 

 

SELAMAT
JALAN, PAK BOY!

 

 

“harapan itu bagaikan jalan setapak di suatu hutan,

ia
(menjadi) ada karena banyak orang yang melaluinya.”

 

 

KEMATIAN
adalah takdir Tuhan yang tak mungkin dilawan.
Namun, kedukaan juga takdir manusiawi yang sulit kita
tolak. Persoalannya kemudian bagaimana kita memaknai “kematian” itu sendiri.
Karena setiap kematian memiliki hikmah yang berbeda-beda.

Ada suatu saat dimana kita tak peduli lagi
pada kematian apapun. Yakni ketika kematian itu menjadi hal yang biasa saja.
Namun bisa saja, ke-biasa-an itu muncul karena kita merasa benar atas kematian.
Apapun bisa berarti pada sebuah kematian. Dan kematian
tetap begitu. Ia erat dan lekat merudung duka. Ia adalah masa yang memutuskan
masa yang dijalani. Sebuah penghabisan. Dan kekal dalam alamnya. Alam
ketidakhidupan.

 

Aku
jelas tak mungkin berharap berbincang dengan Pak Boy saat ini. Aku sudah pasti
tak bakal lagi mendengar harapannya yang berapi-api. Ia tetap tiada. Tak ada
akal hebat didunia manapun yang dapat menghidupkan memori itu. Ia akan tetap
tiada. Namun, karena kematian adalah pesan bagi semua yang hidup maka patutlah
aku berupaya mereka-reka pesan yang kini menggema.

 

Dan
pesan itu mendadak lengket dalam ingatanku yakni kali pertama bertemu dengannya
dalam gundah dan penuh rasa salah. Malam itu, Pak Boy memelukku disamping
jenazah Elang – anaknya dan lirih suaranya masih terasa hingga sekarang. Katanya
penuh harap, “lanjutkan…” Aku tak perlu menjawab. Karena hanya tanggungjawab
yang diinginkannya. Begitu juga ketika didepan liang anaknya, saat keesokan
harinya. Beliau menghentakkan ikrar “melanjutkan perjuangan”, yang dengan penuh
disanggupi oleh semua pelayat. Pekik “Allahu Akbar” adalah saksi kami waktu
itu.

 

SEMENTARA,
hari ini (hari disaat anda masih membaca tulisan ini), kita semua boleh jadi
tambah kehilangan. Tak ada yang mati memang. Namun ada yang sulit hidup dan
meregang kematian disini. Tepatnya di hati ini. Yakni, ketika kita tak lagi
peduli pada kehidupan. Baik kehidupan sendiri maupun kehidupan orang lain.

 

Beberapa
hari setelah Pak Boy dimakamkan, Ibu Teti, ibunda Alm. Elang menyampaikan
kegusarannya atas penuntasan kasus 12 Mei 1998. Beliau tampaknya mulai tak
kuasa menaruh harap pada kita, mahasiswa dan insan Universitas Trisakti.
Kegusaran dan kekecewaan Ibu Teti tak terbantahkan oleh apapun memang. Bukan
apa-apa, Pak Boy pun sakit karena hal yang sama. Gusar dan kecewa. Gusar atas
kelambanan penuntasan dan kecewa karena harapan yang hanya berupa janji.
Akhirnya, tak dapat
ditahan-tahan lagi. Kepercayaan dan mandat mereka pelan-pelan senyap disapu
kesibukan kita masing-masing.

 

Ego kitalah yang merusak
kepercayaan itu. Dan kepercayaan tak dapat terbayarkan karena berdirinya
Monumen Tragedi 12 Mei. Kepercayaan tak bisa dilunasi dengan nama gedung dan
atau predikat “Kampus Pahlawan Reformasi”. Kepercayaan seperti pengorbanan, tak
dapat dibandingkan dengan apapun. Justeru karena kita menangguk untung dari
pengorbanan mestinya kita merasa berhutang. Hutang yang tak sanggup kita
lunasi, kecuali kita menjaga teguh kepercayaan itu sendiri.

 

ADALAH juga merupakan hutang
dan kematian nurani ketika terdapat penindasan sementara kita hanya diam tak
bertindak. Juga merupakan kematian nurani bagi kita yang membiarkan kematian
keempat sahabat dan pahlawan kita menjadi semakin sia-sia. Nurani yang mati
adalah nurani yang takut hidup. Maka, kalian yang berani hidup mesti teguhkan
bahwa: harapan seperti jalan setapak di dalam hutan, ia (menjadi) ada karena
banyak orang yang melaluinya. Bergabunglah pada harapan, supaya harapan itu
tetap ada.

 

Akhir kata, bersama duka,
rindu dan kekaguman yang mendalam kulepas kepergianmu, Pak Boy dengan satu
tekad abadi: “kami tuntaskan.” Innalillahi
wa inna ilaihi rojiun.

 

 

 

Grogol, pertengahan Ujian
Akhir Semester, medio Januari 2003.

(tak ada alasan untuk tetap
diam!)

 

sajak rumput pemberang!

March 24th, 2005 by rumputapi

PUISI PERLAWANAN

 

hari
ini semuanya makin jelas

yang
mana lawan

dan
yang mana kawan

 

hari
ini semuanya telah jelas

siapa yang harus ditentang

dan siapa yang pasti menang

 

ketika semua yang di seberang terus
mengawang

kita masih disini tetap menerawang

 

jelas sudah,

hari ini kami tidak lagi patuh

 

karena kami memang bukan pesuruh

yang pasrah akan nasib

karena kami memang bukan pengalah

berpura-pura dalam tabah

karena kami tak bisa lagi tunduk

bahkan ‘tuk sekedar mengangguk

 

bukan,

jelas sama sekali bukan!

 

sekarang,

lupakanlah masa lalu, lupakan dahulu

tengoklah hari ini, tengoklah ini kali

 

adakah murung di wajah ini?

adakah tangis di mata kami?

atau lelah di pembuluh darah?

atau
rona takut yang terlecut?

 

hei!

bos-bos dimobil mewah

serta pengusaha dan lintah darat

buat
apa kalian pura-pura melarat?

biar
dibilang sudah tobat?

percayalah,
kalian sudah terlambat

 

hei!

wakil rakyat dan ketua partai

bicaralah!

bicaralah seperti kisah kalian di jalan
dan di gedung bundar

yang usang ditelan uang

 

dan,

jangan sekali-kali bilang kalian lapar

jangan sekali-kali katakan kalian takut

butakah kalian dengan perut yang gendut?

jangan juga kalian teriak ampun

bersujud rata di tanah darah kami punya

 

hei!

pak jendral berbaju darah

ayo, maju dan paksa kami untuk mundur

sesenti pun tak akan kami kendur

, terjang dengan parang dan atau mobil
baja

 

lupakan masa lalu, lupakan dahulu

tengoklah hari ini, tengoklah kali ini

 

rasakan kami punya marah

nikmatilah pesta ini

pesta
orang-orang tertindas

yang
membalas menegakkan batas

pesta
orang-orang tersisih

yang
merebut merenggut kasih

jangan
merayu kami

bahwa
kami terlalu kejam

biarkan kami menghapus dosa-dosa

supaya kalian bisa masuk sorga

atau
setidaknya neraka yang paling ramah

 

hari
ini semuanya semakin jelas

yang
mana kawan

dan
yang mana lawan

 

hari ini semuanya telah jelas

siapa yang harus ditentang

dan siapa yang pasti menang

 

(Desa Krukut, Gandul, 20 Oktober
2000)

____________________________________________________________________________________

INI
KAMI, KAMI INI YA INI

(bagian
satu)

 

beri saja selinting ganja

kami pun mudah tertawa

 

jangan kasih sedikit sarapah

kami pun segera marah

 

dan kami hanya mampu berkata

: inilah kami, kami ini ya ini

 

jika malam datang

kami jalan

cari pesta menipu senang

cewek jalang pun tambah malang

 

: ini ya kami, kami ya ini kami

 

yang
tolol

cuma
bisa ngasah kontol

temennya
cuma mansion sebotol

maklum,
namanya juga orang tolol

 

:
memang ini kami, kami memang ini

 

kami
bukan kalian

di
puji di buku sejarah

lalu
jadi pahlawan

 

kami bukan kalian

sopan dan terencana

 

: memang begitu, ya itulah kami

 

sekarang kami disini

menyiapkan demonstrasi

sekarang kami berdiri

mau orasi

 

: kami ini memang begini

maunya menang sendiri

 

di jalan kami bakar mobil tentara

inilah kami

: biangya gara-gara!

 

(Desa Krukut, Gandul, 22
Oktober 2000)

 
_____________________________________________________________________________________

BESOK,
HARI SUMPAH PEMUDA

 

besok, hari sumpah pemuda

tapi percuma, negeri ini bukan lagi milik
para pemuda

 

besok, hari sumpah pemuda

tapi sayang, di negeri ini sumpah adalah
sampah

 

besok, hari sumpah pemuda

jangan berharap ada pemuda

sebab kemarin

negeri ini telah melaporkan

bahwa
utangnya sudah mencapai 1.280,1 triliun rupiah

 

ini berarti: tiap orang dari 200 juta penduduk
di negeri ini

punya utang sebesar 6,4 juta

tak peduli orang kaya, pegawai kantor,
pengangguran, ibu-ibu arisan, anak disko, semua tongkrongan termasuk bayi-bayi

semuanya
sama

dan
rata utangnya

lantas
kemudian anda meminta kami bersumpah?

 

besok,
hari sumpah pemuda

tapi
kemarin

semua
orang tua masih saja berdusta

 

besok,
hari sumpah pemuda

tapi
kemarin

semua
pemuda mendadak jadi tua

 

besok,
hari sumpah pemuda

harinya
anak-anak muda

yang tua musti ngelus dada

 

besok, hari sumpah pemuda

hentikan semua kata-kata

biarkan nurani bergumam

dengan suaranya yang muram

oleh kusamnya matahari senja

 

besok, hari sumpah pemuda

dan para pemuda akan bersumpah

: merebut kembali semua nasibnya

 

(Desa Krukut, Gandul, 27
Oktober 2000)

_____________________________________________________________________________________

SANG
PEMILIK

 

bila sekarang kamu baru malu

: aku tak mau tahu!

 

bila sekarang kami datang

: tolonglah, jangan lagi ditentang!

 

karena kami sadar

selangkah saja mundur

beribu-ribu tahun kami kan hancur

sedetik saja lengah

segera kita menimbun sampah

 

lama kami pegal

menghafal kata: maju dan lawan

lama kami tersadar

sebagai pemilik takdir yang kekal…

 

(Desa Krukut, Gandul, 12 November 2000)

_____________________________________________________________________________________

MESTINYA
KITA BERADA DI KELAS, BUKAN DI JALANAN

 

sadarkah kamu

wahai kawan

 

ini hari

kelas kosong

: kabarnya kamu ramai di jalan

 

padahal pena belum setitik meruah

dan buku masih rindu kata-kata

dan kapur tak pula jadi tumpul

dan bahagialah para dosen itu

bisa libur tanpa perlu kabur

 

gara-gara benjol di kepala

sekarang kamu mengeluh

padahal tadi kamu gembira

ujian tak lagi jadi beban

justru
superman yang sempat membayang

dan
biarkan PHH jadi sasaran

 

….

sadarkah kamu

sekarang

dewan sedang bersidang

 

suaranya lantang berbusa-busa

supaya pemilu besok tetap di sofa

ribut uang seperak

mau dibagi meski sudah berkerak

 

padahal kamu lagi ninggalin masa depan

dan tertimbun utang

 

jadi ngapain lagi berkesah

ribut
soal ideologi dan teori

tapi,
janji revolusi tak pernah terbukti

 

makanya kawan

jangan terus kau murung

lanjutkan meski itu mustahil

 

: katanya mau nonton berita pembangunan?

kalau demo masih titip absen

, mana bisa kita bikin sejarah?

 

(Desa Krukut, Gandul, April 2001)

_____________________________________________________________________________________

AKU
SI RUMPUT API

 

hei, aku ini rumput api

biar lembut

tak mudah kau renggut

tapi,

aku bukan jembut, sayang…

begitu kusut

bisa langsung cabut

 

hei, aku ini si rumput api

semakin dikejar, semakin dia menjalar

 

kemarin aku di jalan,

lihatlah, sekarang sudah di batu nisan

itu berarti: aku tak pernah mati, kawan!

 

bagi kau yang setuju melawan,

hari ini ku beri salam:

pijak!

pijaklah aku,

tapi jangan sekali kau injak

sungguh, kan’ kubuat kau tak berjejak….

 

(Desa Krukut, Gandul,
11 April 01)

_____________________________________________________________________________________

PERANG MELAWAN LUPA


matinya kawan kami

pada
tahun yang kesekian ini

adalah
hutang menagih janji


baunya memang tak amis lagi

namanya
pun mulai sulit diucap


biar begitu,

di
depan tanah gembur ini

tiap
bulan mei

tanggal
dua belas


kami selalu bersaksi

agar
nisan ini tetap punya arti


dan dimana-mana telah kami keraskan hati!


biarpun kalian tabur semua predikat

biarpun
kalian sebar segala muslihat

kami
tak silau


…kami percaya

hanya ingatan

yang
memastikan kekalnya perubahan


hanya perlawanan

yang
menjamin kemerdekaan


dan perang melawan lupa sudah kadung mengumandang!

(Saraswati Ujung, 18 Januari 2005)

_____________________________________________________________________________________

semua tentang Y!

March 24th, 2005 by rumputapi

PUISIKU
MENGAJAKMU, Y!

Y,

puisi ini mengajakmu menikah

beranak-pinak

membesarkan khalifah

puisi ini mengajakmu bersetubuh

menggenapkan ibadah

mengerang, terengah-engah dan melenguh

puisi ini mengajakmu berjuang

menegakkan haq-Nya

menghentikan perang – kalau mampu

Y,

puisi ini mengajakmu bersumpah

mencintai
anak-anak kita

orangtua-leluhur,
sanak-saudara, kawan dan sahabat kita

mencintai
karya kita

cita-cita,
peluh dan keringat kita

Y,

puisi
ini mengajakmu bersumpah

mencintaiku

secukupnya saja

sungguh

(Saraswati Ujung, 9
Februari 2005)

DAN
SAJAKKU PUN MENANGIS

Y,

baru
kali ini sajakku meminta ampun

dan
kata-kata menunduk

maju
perlahan

dan
malu-malu

padahal
aku cuma pingin teriak:

hore!
kamu tak sekedar mampir kali ini

padahal
aku hanya ingin mengucap:

terima
kasih demi kesempatan yang sekali ini

padahal
aku hanya ingin memohon:

Tuhan,
ridhoilah pasangan ini

dan
Y:

baru
kali ini sajakku menangis

kagum
dan haru

karena
Tuhan Maha Pemurah

(Saraswati Ujung, 17
Februari 2005)

KAMU DIANTARA DUA SUJUDKU

Y,

senja

buatku

adalah
siang yang sekarat

tapi
kata kamu

malam
yang pekat

adalah
fajar yang tertunda

lalu
kubalas

kita
memang beda

lagian
siapa jamin bisa cocok?

maka:

jika
aku adalah angka

kumohon

genapilah
aku

jika
kita berpasangan

pintalah
padaNya

:
“padukanlah kami, Ya Tuhan”

karena
kamu

buatku
adalah

cinta
yang ada diantara dua sujud

Insya
Alloh!

(Saraswati Ujung, 3
Maret 2005)