Archive for March, 2005

sajak rumput pemberang!

Thursday, March 24th, 2005

PUISI PERLAWANAN

 

hari
ini semuanya makin jelas

yang
mana lawan

dan
yang mana kawan

 

hari
ini semuanya telah jelas

siapa yang harus ditentang

dan siapa yang pasti menang

 

ketika semua yang di seberang terus
mengawang

kita masih disini tetap menerawang

 

jelas sudah,

hari ini kami tidak lagi patuh

 

karena kami memang bukan pesuruh

yang pasrah akan nasib

karena kami memang bukan pengalah

berpura-pura dalam tabah

karena kami tak bisa lagi tunduk

bahkan ‘tuk sekedar mengangguk

 

bukan,

jelas sama sekali bukan!

 

sekarang,

lupakanlah masa lalu, lupakan dahulu

tengoklah hari ini, tengoklah ini kali

 

adakah murung di wajah ini?

adakah tangis di mata kami?

atau lelah di pembuluh darah?

atau
rona takut yang terlecut?

 

hei!

bos-bos dimobil mewah

serta pengusaha dan lintah darat

buat
apa kalian pura-pura melarat?

biar
dibilang sudah tobat?

percayalah,
kalian sudah terlambat

 

hei!

wakil rakyat dan ketua partai

bicaralah!

bicaralah seperti kisah kalian di jalan
dan di gedung bundar

yang usang ditelan uang

 

dan,

jangan sekali-kali bilang kalian lapar

jangan sekali-kali katakan kalian takut

butakah kalian dengan perut yang gendut?

jangan juga kalian teriak ampun

bersujud rata di tanah darah kami punya

 

hei!

pak jendral berbaju darah

ayo, maju dan paksa kami untuk mundur

sesenti pun tak akan kami kendur

, terjang dengan parang dan atau mobil
baja

 

lupakan masa lalu, lupakan dahulu

tengoklah hari ini, tengoklah kali ini

 

rasakan kami punya marah

nikmatilah pesta ini

pesta
orang-orang tertindas

yang
membalas menegakkan batas

pesta
orang-orang tersisih

yang
merebut merenggut kasih

jangan
merayu kami

bahwa
kami terlalu kejam

biarkan kami menghapus dosa-dosa

supaya kalian bisa masuk sorga

atau
setidaknya neraka yang paling ramah

 

hari
ini semuanya semakin jelas

yang
mana kawan

dan
yang mana lawan

 

hari ini semuanya telah jelas

siapa yang harus ditentang

dan siapa yang pasti menang

 

(Desa Krukut, Gandul, 20 Oktober
2000)

____________________________________________________________________________________

INI
KAMI, KAMI INI YA INI

(bagian
satu)

 

beri saja selinting ganja

kami pun mudah tertawa

 

jangan kasih sedikit sarapah

kami pun segera marah

 

dan kami hanya mampu berkata

: inilah kami, kami ini ya ini

 

jika malam datang

kami jalan

cari pesta menipu senang

cewek jalang pun tambah malang

 

: ini ya kami, kami ya ini kami

 

yang
tolol

cuma
bisa ngasah kontol

temennya
cuma mansion sebotol

maklum,
namanya juga orang tolol

 

:
memang ini kami, kami memang ini

 

kami
bukan kalian

di
puji di buku sejarah

lalu
jadi pahlawan

 

kami bukan kalian

sopan dan terencana

 

: memang begitu, ya itulah kami

 

sekarang kami disini

menyiapkan demonstrasi

sekarang kami berdiri

mau orasi

 

: kami ini memang begini

maunya menang sendiri

 

di jalan kami bakar mobil tentara

inilah kami

: biangya gara-gara!

 

(Desa Krukut, Gandul, 22
Oktober 2000)

 
_____________________________________________________________________________________

BESOK,
HARI SUMPAH PEMUDA

 

besok, hari sumpah pemuda

tapi percuma, negeri ini bukan lagi milik
para pemuda

 

besok, hari sumpah pemuda

tapi sayang, di negeri ini sumpah adalah
sampah

 

besok, hari sumpah pemuda

jangan berharap ada pemuda

sebab kemarin

negeri ini telah melaporkan

bahwa
utangnya sudah mencapai 1.280,1 triliun rupiah

 

ini berarti: tiap orang dari 200 juta penduduk
di negeri ini

punya utang sebesar 6,4 juta

tak peduli orang kaya, pegawai kantor,
pengangguran, ibu-ibu arisan, anak disko, semua tongkrongan termasuk bayi-bayi

semuanya
sama

dan
rata utangnya

lantas
kemudian anda meminta kami bersumpah?

 

besok,
hari sumpah pemuda

tapi
kemarin

semua
orang tua masih saja berdusta

 

besok,
hari sumpah pemuda

tapi
kemarin

semua
pemuda mendadak jadi tua

 

besok,
hari sumpah pemuda

harinya
anak-anak muda

yang tua musti ngelus dada

 

besok, hari sumpah pemuda

hentikan semua kata-kata

biarkan nurani bergumam

dengan suaranya yang muram

oleh kusamnya matahari senja

 

besok, hari sumpah pemuda

dan para pemuda akan bersumpah

: merebut kembali semua nasibnya

 

(Desa Krukut, Gandul, 27
Oktober 2000)

_____________________________________________________________________________________

SANG
PEMILIK

 

bila sekarang kamu baru malu

: aku tak mau tahu!

 

bila sekarang kami datang

: tolonglah, jangan lagi ditentang!

 

karena kami sadar

selangkah saja mundur

beribu-ribu tahun kami kan hancur

sedetik saja lengah

segera kita menimbun sampah

 

lama kami pegal

menghafal kata: maju dan lawan

lama kami tersadar

sebagai pemilik takdir yang kekal…

 

(Desa Krukut, Gandul, 12 November 2000)

_____________________________________________________________________________________

MESTINYA
KITA BERADA DI KELAS, BUKAN DI JALANAN

 

sadarkah kamu

wahai kawan

 

ini hari

kelas kosong

: kabarnya kamu ramai di jalan

 

padahal pena belum setitik meruah

dan buku masih rindu kata-kata

dan kapur tak pula jadi tumpul

dan bahagialah para dosen itu

bisa libur tanpa perlu kabur

 

gara-gara benjol di kepala

sekarang kamu mengeluh

padahal tadi kamu gembira

ujian tak lagi jadi beban

justru
superman yang sempat membayang

dan
biarkan PHH jadi sasaran

 

….

sadarkah kamu

sekarang

dewan sedang bersidang

 

suaranya lantang berbusa-busa

supaya pemilu besok tetap di sofa

ribut uang seperak

mau dibagi meski sudah berkerak

 

padahal kamu lagi ninggalin masa depan

dan tertimbun utang

 

jadi ngapain lagi berkesah

ribut
soal ideologi dan teori

tapi,
janji revolusi tak pernah terbukti

 

makanya kawan

jangan terus kau murung

lanjutkan meski itu mustahil

 

: katanya mau nonton berita pembangunan?

kalau demo masih titip absen

, mana bisa kita bikin sejarah?

 

(Desa Krukut, Gandul, April 2001)

_____________________________________________________________________________________

AKU
SI RUMPUT API

 

hei, aku ini rumput api

biar lembut

tak mudah kau renggut

tapi,

aku bukan jembut, sayang…

begitu kusut

bisa langsung cabut

 

hei, aku ini si rumput api

semakin dikejar, semakin dia menjalar

 

kemarin aku di jalan,

lihatlah, sekarang sudah di batu nisan

itu berarti: aku tak pernah mati, kawan!

 

bagi kau yang setuju melawan,

hari ini ku beri salam:

pijak!

pijaklah aku,

tapi jangan sekali kau injak

sungguh, kan’ kubuat kau tak berjejak….

 

(Desa Krukut, Gandul,
11 April 01)

_____________________________________________________________________________________

PERANG MELAWAN LUPA


matinya kawan kami

pada
tahun yang kesekian ini

adalah
hutang menagih janji


baunya memang tak amis lagi

namanya
pun mulai sulit diucap


biar begitu,

di
depan tanah gembur ini

tiap
bulan mei

tanggal
dua belas


kami selalu bersaksi

agar
nisan ini tetap punya arti


dan dimana-mana telah kami keraskan hati!


biarpun kalian tabur semua predikat

biarpun
kalian sebar segala muslihat

kami
tak silau


…kami percaya

hanya ingatan

yang
memastikan kekalnya perubahan


hanya perlawanan

yang
menjamin kemerdekaan


dan perang melawan lupa sudah kadung mengumandang!

(Saraswati Ujung, 18 Januari 2005)

_____________________________________________________________________________________

semua tentang Y!

Thursday, March 24th, 2005

PUISIKU
MENGAJAKMU, Y!

Y,

puisi ini mengajakmu menikah

beranak-pinak

membesarkan khalifah

puisi ini mengajakmu bersetubuh

menggenapkan ibadah

mengerang, terengah-engah dan melenguh

puisi ini mengajakmu berjuang

menegakkan haq-Nya

menghentikan perang – kalau mampu

Y,

puisi ini mengajakmu bersumpah

mencintai
anak-anak kita

orangtua-leluhur,
sanak-saudara, kawan dan sahabat kita

mencintai
karya kita

cita-cita,
peluh dan keringat kita

Y,

puisi
ini mengajakmu bersumpah

mencintaiku

secukupnya saja

sungguh

(Saraswati Ujung, 9
Februari 2005)

DAN
SAJAKKU PUN MENANGIS

Y,

baru
kali ini sajakku meminta ampun

dan
kata-kata menunduk

maju
perlahan

dan
malu-malu

padahal
aku cuma pingin teriak:

hore!
kamu tak sekedar mampir kali ini

padahal
aku hanya ingin mengucap:

terima
kasih demi kesempatan yang sekali ini

padahal
aku hanya ingin memohon:

Tuhan,
ridhoilah pasangan ini

dan
Y:

baru
kali ini sajakku menangis

kagum
dan haru

karena
Tuhan Maha Pemurah

(Saraswati Ujung, 17
Februari 2005)

KAMU DIANTARA DUA SUJUDKU

Y,

senja

buatku

adalah
siang yang sekarat

tapi
kata kamu

malam
yang pekat

adalah
fajar yang tertunda

lalu
kubalas

kita
memang beda

lagian
siapa jamin bisa cocok?

maka:

jika
aku adalah angka

kumohon

genapilah
aku

jika
kita berpasangan

pintalah
padaNya

:
“padukanlah kami, Ya Tuhan”

karena
kamu

buatku
adalah

cinta
yang ada diantara dua sujud

Insya
Alloh!

(Saraswati Ujung, 3
Maret 2005)