sajak rumput pemberang!
PUISI PERLAWANAN
hari
ini semuanya makin jelas
yang
mana lawan
dan
yang mana kawan
hari
ini semuanya telah jelas
siapa yang harus ditentang
dan siapa yang pasti menang
ketika semua yang di seberang terus
mengawang
kita masih disini tetap menerawang
jelas sudah,
hari ini kami tidak lagi patuh
karena kami memang bukan pesuruh
yang pasrah akan nasib
karena kami memang bukan pengalah
berpura-pura dalam tabah
karena kami tak bisa lagi tunduk
bahkan ‘tuk sekedar mengangguk
bukan,
jelas sama sekali bukan!
sekarang,
lupakanlah masa lalu, lupakan dahulu
tengoklah hari ini, tengoklah ini kali
adakah murung di wajah ini?
adakah tangis di mata kami?
atau lelah di pembuluh darah?
atau
rona takut yang terlecut?
hei!
bos-bos dimobil mewah
serta pengusaha dan lintah darat
buat
apa kalian pura-pura melarat?
biar
dibilang sudah tobat?
percayalah,
kalian sudah terlambat
hei!
wakil rakyat dan ketua partai
bicaralah!
bicaralah seperti kisah kalian di jalan
dan di gedung bundar
yang usang ditelan uang
dan,
jangan sekali-kali bilang kalian lapar
jangan sekali-kali katakan kalian takut
butakah kalian dengan perut yang gendut?
jangan juga kalian teriak ampun
bersujud rata di tanah darah kami punya
hei!
pak jendral berbaju darah
ayo, maju dan paksa kami untuk mundur
sesenti pun tak akan kami kendur
, terjang dengan parang dan atau mobil
baja
lupakan masa lalu, lupakan dahulu
tengoklah hari ini, tengoklah kali ini
rasakan kami punya marah
nikmatilah pesta ini
pesta
orang-orang tertindas
yang
membalas menegakkan batas
pesta
orang-orang tersisih
yang
merebut merenggut kasih
jangan
merayu kami
bahwa
kami terlalu kejam
biarkan kami menghapus dosa-dosa
supaya kalian bisa masuk sorga
atau
setidaknya neraka yang paling ramah
hari
ini semuanya semakin jelas
yang
mana kawan
dan
yang mana lawan
hari ini semuanya telah jelas
siapa yang harus ditentang
dan siapa yang pasti menang
(Desa Krukut, Gandul, 20 Oktober
2000)
____________________________________________________________________________________
INI
KAMI, KAMI INI YA INI
(bagian
satu)
beri saja selinting ganja
kami pun mudah tertawa
jangan kasih sedikit sarapah
kami pun segera marah
dan kami hanya mampu berkata
: inilah kami, kami ini ya ini
jika malam datang
kami jalan
cari pesta menipu senang
cewek jalang pun tambah malang
: ini ya kami, kami ya ini kami
yang
tolol
cuma
bisa ngasah kontol
temennya
cuma mansion sebotol
maklum,
namanya juga orang tolol
:
memang ini kami, kami memang ini
kami
bukan kalian
di
puji di buku sejarah
lalu
jadi pahlawan
kami bukan kalian
sopan dan terencana
: memang begitu, ya itulah kami
sekarang kami disini
menyiapkan demonstrasi
sekarang kami berdiri
mau orasi
: kami ini memang begini
maunya menang sendiri
di jalan kami bakar mobil tentara
inilah kami
: biangya gara-gara!
(Desa Krukut, Gandul, 22
Oktober 2000)
_____________________________________________________________________________________
BESOK,
HARI SUMPAH PEMUDA
besok, hari sumpah pemuda
tapi percuma, negeri ini bukan lagi milik
para pemuda
besok, hari sumpah pemuda
tapi sayang, di negeri ini sumpah adalah
sampah
besok, hari sumpah pemuda
jangan berharap ada pemuda
sebab kemarin
negeri ini telah melaporkan
bahwa
utangnya sudah mencapai 1.280,1 triliun rupiah
ini berarti: tiap orang dari 200 juta penduduk
di negeri ini
punya utang sebesar 6,4 juta
tak peduli orang kaya, pegawai kantor,
pengangguran, ibu-ibu arisan, anak disko, semua tongkrongan termasuk bayi-bayi
semuanya
sama
dan
rata utangnya
lantas
kemudian anda meminta kami bersumpah?
besok,
hari sumpah pemuda
tapi
kemarin
semua
orang tua masih saja berdusta
besok,
hari sumpah pemuda
tapi
kemarin
semua
pemuda mendadak jadi tua
besok,
hari sumpah pemuda
harinya
anak-anak muda
yang tua musti ngelus dada
besok, hari sumpah pemuda
hentikan semua kata-kata
biarkan nurani bergumam
dengan suaranya yang muram
oleh kusamnya matahari senja
besok, hari sumpah pemuda
dan para pemuda akan bersumpah
: merebut kembali semua nasibnya
(Desa Krukut, Gandul, 27
Oktober 2000)
_____________________________________________________________________________________
SANG
PEMILIK
bila sekarang kamu baru malu
: aku tak mau tahu!
bila sekarang kami datang
: tolonglah, jangan lagi ditentang!
karena kami sadar
selangkah saja mundur
beribu-ribu tahun kami kan hancur
sedetik saja lengah
segera kita menimbun sampah
lama kami pegal
menghafal kata: maju dan lawan
lama kami tersadar
sebagai pemilik takdir yang kekal…
(Desa Krukut, Gandul, 12 November 2000)
_____________________________________________________________________________________
MESTINYA
KITA BERADA DI KELAS, BUKAN DI JALANAN
sadarkah kamu
wahai kawan
ini hari
kelas kosong
: kabarnya kamu ramai di jalan
padahal pena belum setitik meruah
dan buku masih rindu kata-kata
dan kapur tak pula jadi tumpul
dan bahagialah para dosen itu
bisa libur tanpa perlu kabur
gara-gara benjol di kepala
sekarang kamu mengeluh
padahal tadi kamu gembira
ujian tak lagi jadi beban
justru
superman yang sempat membayang
dan
biarkan PHH jadi sasaran
….
sadarkah kamu
sekarang
dewan sedang bersidang
suaranya lantang berbusa-busa
supaya pemilu besok tetap di sofa
ribut uang seperak
mau dibagi meski sudah berkerak
padahal kamu lagi ninggalin masa depan
dan tertimbun utang
jadi ngapain lagi berkesah
ribut
soal ideologi dan teori
tapi,
janji revolusi tak pernah terbukti
makanya kawan
jangan terus kau murung
lanjutkan meski itu mustahil
: katanya mau nonton berita pembangunan?
kalau demo masih titip absen
, mana bisa kita bikin sejarah?
(Desa Krukut, Gandul, April 2001)
_____________________________________________________________________________________
AKU
SI RUMPUT API
hei, aku ini rumput api
biar lembut
tak mudah kau renggut
tapi,
aku bukan jembut, sayang…
begitu kusut
bisa langsung cabut
hei, aku ini si rumput api
semakin dikejar, semakin dia menjalar
kemarin aku di jalan,
lihatlah, sekarang sudah di batu nisan
itu berarti: aku tak pernah mati, kawan!
bagi kau yang setuju melawan,
hari ini ku beri salam:
pijak!
pijaklah aku,
tapi jangan sekali kau injak
sungguh, kan’ kubuat kau tak berjejak….
(Desa Krukut, Gandul,
11 April 01)
_____________________________________________________________________________________
PERANG MELAWAN LUPA
matinya kawan kami
pada
tahun yang kesekian ini
adalah
hutang menagih janji
baunya memang tak amis lagi
namanya
pun mulai sulit diucap
biar begitu,
di
depan tanah gembur ini
tiap
bulan mei
tanggal
dua belas
kami selalu bersaksi
agar
nisan ini tetap punya arti
dan dimana-mana telah kami keraskan hati!
biarpun kalian tabur semua predikat
biarpun
kalian sebar segala muslihat
kami
tak silau
…kami percaya
hanya ingatan
yang
memastikan kekalnya perubahan
hanya perlawanan
yang
menjamin kemerdekaan
dan perang melawan lupa sudah kadung mengumandang!
(Saraswati Ujung, 18 Januari 2005)
_____________________________________________________________________________________
April 9th, 2009 at 6:53 am
HALO PUISINYA BAGUS-BAGUS LHO KAPAN BIKIN LAGI ? BTW KU JUGA ORANG KRUKUT RT.01/03 SALAM KENAL