Kehidupan Yang Memaknai Munir
KEHIDUPAN YANG MEMAKNAI MUNIR
Orang jahat itu tidak
pernah bertambah.
Orang baik pun tak
pernah berkurang.
Hanya saja: orang baik yang berani memang tidak banyak.
Selasa siang tadi, aku
terpukul dua kali. Pertama, meski
sudah diantisipasi namun rapat pleno DPR-RI akhirnya mengesahkan RUU KKR
(Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi). Kedua,
datangnya informasi tentang wafatnya kawan kami, Munir. Mendengar berita ini, keluarga korban kekerasan negara di
masa lalu dan para aktivis kemanusiaan yang berkumpul di Sekretariat KONTRAS
sontak mengadakan hening cipta, kemudian dengan tergopoh-gopoh semuanya
berangkat menuju rumah duka. Disudut ruangan, Usman Hamid – Kordinator KONTRAS sedang mengumpulkan kekuatan dan
memilih-milih kata yang tepat untuk mengabarkan berita ini kepada Ibu Suci – istri Cak Munir. Yang lain,
sibuk mencari informasi tentang proses kematiannya. Rencana untuk menyikapi RUU
KKR yang tidak memihak korban akhirnya batal – kami memilih merespon pukulan
kedua.
Aku pun setuju.
Kematian Cak Munir lebih menyakitkan daripada pengkhianatan anggota DPR-RI,
gonjang-ganjing Pilpres babak kedua atau Pesta Olahraga Nasional. Bahkan
mungkin setara dengan orang-orang yang dibelanya – orang-orang yang hilang
paksa, aktivis yang dibunuh, mahasiswa yang tertembak, buruh-tani yang
dicurangi dan semacamnya. Orang-orang itu kebanyakan adalah korban. Dan sejatinya, korban selalu menempati lubang masa lalu
(past hole). Dia ada karena sebab
yang mendahuluinya. Dia muncul ketika peristiwanya telah berlalu. Dan pastinya
mengandung ke-kuno-an di setiap kekinian – seolah bukan hal yang penting lagi.
Apalagi bagi yang ingin buru-buru menyongsong masa depan.
Apapun itu, yang
jelas di dalam “lubang”, para korban
memikul luka dan penasaran yang mendalam. Luka berupa kehilangan sanak-saudara,
nafkah, nama baik atau memar dibadan yang hilang namun meruam sampai kedalam
hati. Mereka penasaran akan keadilan yang seharusnya: bahwa membunuh orang,
menghilangkannya, menyiksa dan berbuat curang adalah salah – tidak benar. Pernyataan dan kenyataan
itulah yang mereka butuhkan – bukan sekedar gagah-gagahan soal memaafkan, islah atau berdamai. Dan Cak Munir
memilih berkubang didalamnya: mengungkap kebenaran dan berupaya memastikan
keadilan di masa lalu. Beliau tidak mempedulikan resiko yang kemudian terkait,
bahwa hal itu mengganggu stabilitas, melawan dominasi, menimbulkan
antipati-kontroversi bahkan menyinggung kawan pribadi atau harus berjalan
sendiri.
Hari ini, ketika Beliau
sudah pergi. Aku tak mau terperangkap dalam sunyi. Aku tak sudi menjadikannya
hal yang sepi. Kematiannya mesti menjadi sesuatu yang penting. Persis dengan
misinya ketika masih hidup. Mungkin tidak semua upayanya berhasil terungkap.
Mungkin tidak sepenuhnya keadilan dapat ia rengkuh. Tapi, sejarah bangsa mesti
mencatat: Ia telah membuat suatu yang lalu menjadi persoalan kini dan menjadi
pertimbangan di masa depan. Ia telah memberi makna pada “masa lalu” yang
mendesak pada “masa kini” dan setara untuk “masa depan”.
Maka kepadamu, Cak, aku
bertekad. Aku tak mau menangis. Aku tak ingin lama-lama memendam duka. Aku
memilih mengobarkan semangat, menularkan keberanian dan menuntaskan
ketertundaan yang Cak Munir perjuangkan. Karena kami ingat pesanmu, Cak! “Hanya
kepada yang hidup, kita dapat menggantungkan harapan. Hanya kehidupan yang dapat memaknai sebuah kematian.” Innalillahi wa’ inna ilaihi roji’un.
Desa Krukut-Gandul, 7
September 2004