Ketika Ingatan Saja Tidak Cukup

12 MEI
1998 SUDAH BERLALU. Begitu pula dengan 12 Mei tahun ini.
Tapi, perjuangannya masih
ingin eksis. Meski harapan begitu tipis, meski rintangannya sangat berat, meski
kenyataan yang harus dihadapi adalah ketidakmungkinan, perjuangannya ini tetap
jalan terus. Naif?

 

 

KETIKA
INGATAN SAJA TIDAK CUKUP!

 

 

“masa
lalu dibatasi oleh kalender,

ia
hanya mampu dikekalkan oleh ingatan.”

 

 

TETAPI
INGATAN PUNYA KARAKTER UNIK. Sembarangan menempatkannya maka ia jadi mudah
dilupakan, sebaliknya mengistimewakan suatu ingatan membuat ia melupakan hal
yang lain. Peristiwa 12 Mei 1998 dalam perspektif ingatan dan masa lalu juga
memiliki imbas yang sama, yang menempatkan para pelakunya dalam situasi yang
serba salah. Pilihan untuk melupakan jelas tak mampu menghapus rasa bersalah
dan melepaskan diri dari tanggungjawab namun merekamnya dalam bingkai yang
terlalu besar kerap meneror dan menjauhkan diri pada masa depan.

 

Dalam
diskusi kami tentang salah satu keluarga korban peristiwa 12 Mei 1998 dengan
pihak PULIH sebagai konselor telah membuka pemahaman lain dari peristiwa ini. Menatap
lebih dalam sisi humanis suatu kasus – kasus yang selama ini dimaknai sebagai
kasus politik (atau hukum) yang teramat dominan. Saya menyaksikan benar
bagaimana seseorang yang tak lagi mampu menggapai masa depannya karena begitu
obsesifnya terhadap peristiwa masa lalu yang dialaminya.

 

Itu
pula yang – awalnya – membantu saya untuk menjelaskan mengapa terus terlibat
dalam kasus ini. Sebab, saya sebagaimana aktivis lain yang terlibat dalam
peristiwa 12 Mei 1998 juga merasakan hal yang sama, yakni rasa bersalah dan terus
dikejar tanggungjawab. Bagi saya, aktivitas ini adalah bagian dari penyembuhan.
Dan saya meyakini bahwa kesembuhan total hanya dapat diraih dengan keadilan
mutlak. Bukan hanya sekedar merekam peristiwa (ingatan) dalam kenangan.

 

Persoalannya
adalah ketika seseorang yang tak punya kenangan apapun dan hanya memiliki
ingatan yang terbatas tentang 12 Mei 1998. Seperti kawan-kawan mahasiswa saat
ini atau masyarakat kebanyakan yang memang tidak pernah mengalaminya. Mereka
barangkali sanggup merekam peristiwa tersebut dalam momentum perhatian (rekaman
visual) namun tetap saja sulit merajutnya dalam rekaman emosional. Akhirnya,
yang nampak kemudian adalah segerombolan orang yang sibuk mengatur barisan tapi
seperti tak tahu untuk apa barisan tersebut dibentuk. Tapi ini tentunya lebih
baik daripada orang-orang yang lari dari hiruk-pikuk persoalan.

 

Pada
akhirnya, keyakinan ini sudah cukup membawa kita pada kesimpulan yang sangat
sederhana: tidak merasakan maka sulit
bergabung atau tidak merekamnya maka akan mudah melupakannya.
Begitulah
jika kita bicara perjuangan untuk kasus-kasus masa lalu. Benarkah ini?


Mulanya
saya yakin betul bahwa ini adalah akar masalah dan penjelasan mengapa saya
masih menyibukkan diri pada persoalan ini. Bahkan saya sempat meyakini bahwa “ingatan”
adalah dasar untuk menentukan mengapa orang terlibat dan tidak terlibat pada
perjuangan ini. Bagi saya saat itu, persoalan mengarah pada dikotomi antara “kelompok
ingat” dan “kelompok lupa”.

 

NAMUN,
TERNYATA SAYA KELIRU. Kesimpulan itu pun menjadi gugur dan justru harus
dihancurkan. Saya keliru bahwa ingatan adalah segala-galanya dalam penuntasan
kasus ini. Saya salah jika mengira keterlibatan kita semua pada kasus ini
dikarenakan rekaman emosional. Masa lalu tidak hanya dikekalkan oleh ingatan
semata-mata. Kekalnya sebuah ingatan tidak selalu membawa radikalisasi. Rekaman
emosional yang jernih dan tertata tidak selalu menggiring pada kepedulian.

 

Kita
sebenarnya tidak menyaksikan segerombolan orang yang hanya sibuk membentuk dan
mengatur barisan. Bukan. Bukan hanya itu.
Hari ini, sesungguhnya kita semua ditunjukkan segerombolan orang yang sedang membangun
kepercayaan dan memupuk keyakinan.
They are making believe. Mereka bukan sembarang
orang. Mereka adalah orang-orang percaya bahwa kebenaran dan keadilan itu ada serta
harus di-ada-kan. Mereka adalah orang-orang yang tak mau menerima kenyataan bahwa
ketidakbenaran dan kesewenang-wenangan masih bercokol di negeri ini.
Mereka bukan sekedar menghimpun dan menebar harapan, namun lebih dari itu,
bagi mereka harapan sudah harus diberontak-kan!

 

Jadi, motivasi adalah
segala-galanya.
Ialah yang mengumpulkan dan membentuk kami
dalam barisan. Dia pula yang memanggil kawan-kawan yang notabene tidak punya ingatan
emosional apapun pada kasus ini untuk memperjuangkan hak-haknya. Saat kasus
itu, mereka masih duduk dibangku SMU, tapi toh hari ini justru mereka yang mendominasi
perjuangannya. Sementara, orang-orang yang terlibat langsung justru surut ditelan
kebanggaan memorialnya. Pembedaan yang tepat untuk hal ini adalah “believer” dan “not believer”. Dengan demikian, perang melawan lupa menjadi
pertempuran yang tidak terlalu penting lagi. Pertempuran sesungguhnya adalah memerangi
ketidakyakinan.
Perang
melawan keputusasaan.

 

KEMUDIAN SAYA MENJADI INGAT.
Dalam kondisi perjuangan menuntut keadilan, fase lack of spirit and degradation of morale pasti akan terus
menghantui kita. Mulai dari degradasi konsentrasi, tuntutan, motivasi hingga
moral. Dalam kondisi ini keadilan tidak lagi menjadi penting, justru ketenangan
dan apresiasi yang lebih mengemuka. Secara psikologis, ini alamiah dan sangat manusiawi
namun tetap harus dilawan. Begitu pula dengan kasus 12 Mei 1998, perbedaan motivasi
akan menentukan karakter tuntutan hingga perjuangan. Motivasi kita harus
berkembang secara positif. Kita tidak lagi berjuang atas nama ingatan. Kita
tidak bekerja akibat rasa sesal dan panggilan tanggungjawab saja. Juga bukan hanya
karena prihatin dan simpati pada keluarga korban.
Lebih, lebih dari itu. Harus lebih dari semua itu.   

 

 

 

 

Gandul,
17 September 2003

(salut
dan terima kasih untuk kawan-kawan
yang setia dalam perjuangan ini)

Leave a Reply