Manusia Reuni
MANUSIA
REUNI
Manusia punya cara unik untuk mendramatisir
kehidupan sosialnya. Mereka membangun nilai-nilai yang kemudian mempersulit
diri mereka sendiri. Diciptakannya status sosial berjenjang-jenjang lalu
berpayah-payah menggapai puncaknya. Beberapa, memang berhasil, tapi – berani
taruhan – jauh lebih banyak yang gagal. Seumur hidup, mereka dikejar-kejar
tuntutan ideal itu. Mereka buat relasi sosial yang rinci dan njlimet tapi toh, kemudian dikhianati sendiri. Dan hari ini kita menyaksikan
betapa manusia sangat kewalahan.
***
Ketika agama dihadirkan - status sosial
dipercayai, para penafsir dan pengiman itu barangkali tidak memprediksikan
pertentangan dan kemajuan relasi sosial yang mungkin terjadi. Contoh yang saya
senangi adalah cerita cinta. Kawan saya punya pengalaman pahit akibat mengimani
agama. Ia dikucilkan keluarganya karena mencintai pria berbeda agama. Segera ia
dihadapkan pada beberapa opsi. Saya berusaha membantu, jika nekat pindahlah
agama dan kalau pintar coba dulu selingkuh. Akhirnya ia pilih kuburkan cintanya
– yang satu-satunya dan hidup dalam kekecewaan. Itu contoh pertama.
Contoh kedua adalah cerita kawan saya yang
lain. Ia mencintai pria yang nyaris sepantar pamannya. Kebetulan sekali, pria
itu lebih berkecukupan dan ia tidak. Tidak ada hambatan berarti. Agama cocok,
obrolan nyambung, kesetiaan teruji.
Hambatan hanya ada di awal hubungan, saat keluarga enggan melepasnya. Tapi itu
dapat diatasi. Persoalan justeru terjadi pada dirinya. Ia terlalu ragu untuk
memahami cinta. Sebagai perempuan terpelajar, mandiri dan cantik, gengsi
kemudian menekannya habis-habisan. Terlebih, bisik-bisik “matre” sudah tersebar
kemana-mana. Ia pun memilih membunuh cintanya – satu-satunya dan hidup dalam
penyesalan.
Kita pun segera mengakui – pada akhirnya
agama, negara, aturan, tradisi, status, relasi dan sebagainya adalah karya
manusia yang sulit didamaikan. Semua
karya sosial itu terus bersinggung, menciptakan irisan didalamnya kemudian
memaksa kita bernegosiasi. Contoh pertama adalah kisah persinggungan antara
relasi dengan agama. Contoh kedua adalah persinggungan antara relasi dengan
status dan opini masyarakat. Kita tentunya dapat menambahkan kisah-kisah
persinggungan lain, tapi saya lebih ingin fokus pada satu soal. Tentang pertemanan.
***
Beberapa waktu yang
lalu, sebuah situs mendadak populer. Namanya
Friendster. Situs ini melayani anda
untuk berhubungan dengan teman lama dan teman baru. Friendster mirip “buku
kenangan” semasa kita di bangku sekolah dasar. Ia mengijinkan anda untuk
menjelaskan diri mulai dari nama, pekerjaan, sekolah, favorit dan hobi. Anda
bisa mengatur siapa yang pantas dan tidak untuk menjadi teman. Kenikmatan situs
ini adalah ketika anda mendapatkan respon orang lain tentang anda dan bisa
mengintip orang lain berikut hubungan pertemanannya. Itu saja. Yang lain, meski kalah populer dari Friendster adalah
situs Blog. Hampir mirip Friendster,
situs ini melayani anda untuk mengisi apa saja yang anda suka namun Blog lebih
seperti buku harian atau galeri yang bisa diintip oleh semua orang. Selebihnya,
fasiltas yang nyaris sama. Kenikmatan situs ini terletak pada komentar-komentar
orang terhadap anda dan karya anda. Itu
saja.
Kehebohan Friendster dan Blog menunjukkan
kita tentang deviasi dari dramatisasi sosial. Yang menonjol adalah hasrat manusia akan afiliasi dan eksistensi. Pertemanan diukur dari
kuantitas – seberapa banyak anda memiliki teman atau seberapa banyak orang
ingin berteman dengan anda. Sebagai contoh adalah Sophia Latjuba yang sudah dua bulan ini telah menjadi teman saya.
Barangkali, Sophia adalah orang yang baik hingga mau men-apply saya sebagai temannya. Padahal saya belum tentu cocok
dengannya bahkan bertemu saja tidak pernah. Sebaliknya, bagi Sophia, John-John
hanyalah salah satu seorang fans. Padahal
tidak juga, saya cuma iseng men-add-nya.
Alhasil, saya tidak bisa mengukur kualitas pertemanan dengan dengan Sophia.
Tapi, Friendster memvonis kami telah berteman. Situs Friendster, Blog dan
sejenisnya juga telah mengikat kita pada komunitas. Kita bisa temui alamat
alumni, perkumpulan ini dan anu yang pada saat kita sudah tergabung menunjukkan
bahwa manusia tidak saja butuh afiliasi interpersonal namun butuh pula afiliasi
kelompok.
***
Maka ketika datang rencana tentang reuni
kawan-kawan seangkatan semasa kuliah, saya seolah tidak terlalu peduli – selain
memang sibuk dengan aktivitas pribadi. Bahkan, boleh jadi setelah kita membaca
uraian diatas kita bertanya-tanya, “dramatisasi sosial macam apa lagi ini?”.
Apakah ini juga akan jadi ajang eksistensi diri dan unjuk afiliasi? Entahlah,
karena yang jelas selama mengikuti beberapa kali rapat panitia, saya
menyaksikan gairah yang menggebu-gebu hanya untuk sekedar mengumpulkan teman
lama. Dan hura-hura tentunya.
Teman-teman yang sepuluh tahun lalu pernah bersama-sama. Meski pada
kenyataannya, “kebersamaan” itu tidak persis terjadi karena – seingat saya –
kami tumbuh dari komunitas kecil yang tersebar. Beberapa diikat oleh kelas,
beberapa disimpul oleh tongkrongan
atau kecocokan pertemanan dan sisanya tak jelas teman siapa dia. Benak pun
mulai ragu: “Akankah ini menjadi perlu?”
Tapi, toh
rapat reuni ini jalan terus meski dukungan pada panitia dan antusiasmenya
akhir-akhir ini cenderung melesu. Kabarnya, ini karena panitia didominasi
kelompok tertentu. Kabar lain karena memang sejak lama rasa kebersamaan kita
semu. Kabar lain lagi mengatakan kesibukan pribadi membuat sulit bertemu. Lebih
parah lagi, yang menganggap reuni tidak terlalu perlu. Pada titik lesu semacam
ini, saya benar-benar peduli – mau tidak mau. Saya pun ikut rapat meski lebih
banyak mengacau ketimbang membantu. Saya pilih membaur meski suasana sudah jauh
berbeda dengan dulu. Saya biarkan benak tumpul sejenak membatu – menyilakan
nurani terdramatisir oleh masa lalu. Dalam hati mengutuk, “Persetanlah dengan
motif eksistensi, motif afiliasi dan segala teori pembebasan itu!”
***
Karena memang, saya
akan hadir ke reuni sebagai manusia. Manusia
yang berhak kangen, berhak mencinta dan berhak bersimpati. Manusia yang berhak
memilih kawan dan menentukan musuh. Itulah manusia dan saya adalahnya. Yang
menciptakan nilai-nilai meski sulit mencapainya. Yang menciptakan aturan meski
sulit mematuhinya. Yang bebas bercita-cita dan berharap. Saya sendiri tidak
akan bermuluk-muluk soal relasi sosial yang ideal seperti kekompakan,
kebersamaan atau kesatuan dalam reuni nanti. Saya malah ingin meresapi semua
perbedaan diantara kita. Menikmatinya sebagai keunikan yang lain. Menjadi
manusia yang menerima segala kewalahan. Saya hanya ingin memenuhi hasrat
keingintahuan tentang kabar dan rupa teman sejak beberapa tahun berpisah.
Membangun pertemanan yang rasional. Itu
saja. Lalu, dalam hati setengah bersorak, “I need reunion because I am human!”
Desa Krukut-Gandul, 6 Juli 2004