Selamat Jalan, Pak Boy

AKU INGIN MEMBAGI DUKA.
Jumat, 3 Januari yang lalu, ayah kami yang juga sahabat dan panutan kami wafat
serta meninggalkan kami. Beliau adalah Alm. Pak Bagus Yoga, yang akrab
kami panggil Pak Boy. Beliau adalah ayahanda Alm. Elang Mulya Lesmana – salah
satu dari keempat korban yang gugur pada demonstrasi mahasiswa 12 Mei 1998.

 

 

SELAMAT
JALAN, PAK BOY!

 

 

“harapan itu bagaikan jalan setapak di suatu hutan,

ia
(menjadi) ada karena banyak orang yang melaluinya.”

 

 

KEMATIAN
adalah takdir Tuhan yang tak mungkin dilawan.
Namun, kedukaan juga takdir manusiawi yang sulit kita
tolak. Persoalannya kemudian bagaimana kita memaknai “kematian” itu sendiri.
Karena setiap kematian memiliki hikmah yang berbeda-beda.

Ada suatu saat dimana kita tak peduli lagi
pada kematian apapun. Yakni ketika kematian itu menjadi hal yang biasa saja.
Namun bisa saja, ke-biasa-an itu muncul karena kita merasa benar atas kematian.
Apapun bisa berarti pada sebuah kematian. Dan kematian
tetap begitu. Ia erat dan lekat merudung duka. Ia adalah masa yang memutuskan
masa yang dijalani. Sebuah penghabisan. Dan kekal dalam alamnya. Alam
ketidakhidupan.

 

Aku
jelas tak mungkin berharap berbincang dengan Pak Boy saat ini. Aku sudah pasti
tak bakal lagi mendengar harapannya yang berapi-api. Ia tetap tiada. Tak ada
akal hebat didunia manapun yang dapat menghidupkan memori itu. Ia akan tetap
tiada. Namun, karena kematian adalah pesan bagi semua yang hidup maka patutlah
aku berupaya mereka-reka pesan yang kini menggema.

 

Dan
pesan itu mendadak lengket dalam ingatanku yakni kali pertama bertemu dengannya
dalam gundah dan penuh rasa salah. Malam itu, Pak Boy memelukku disamping
jenazah Elang – anaknya dan lirih suaranya masih terasa hingga sekarang. Katanya
penuh harap, “lanjutkan…” Aku tak perlu menjawab. Karena hanya tanggungjawab
yang diinginkannya. Begitu juga ketika didepan liang anaknya, saat keesokan
harinya. Beliau menghentakkan ikrar “melanjutkan perjuangan”, yang dengan penuh
disanggupi oleh semua pelayat. Pekik “Allahu Akbar” adalah saksi kami waktu
itu.

 

SEMENTARA,
hari ini (hari disaat anda masih membaca tulisan ini), kita semua boleh jadi
tambah kehilangan. Tak ada yang mati memang. Namun ada yang sulit hidup dan
meregang kematian disini. Tepatnya di hati ini. Yakni, ketika kita tak lagi
peduli pada kehidupan. Baik kehidupan sendiri maupun kehidupan orang lain.

 

Beberapa
hari setelah Pak Boy dimakamkan, Ibu Teti, ibunda Alm. Elang menyampaikan
kegusarannya atas penuntasan kasus 12 Mei 1998. Beliau tampaknya mulai tak
kuasa menaruh harap pada kita, mahasiswa dan insan Universitas Trisakti.
Kegusaran dan kekecewaan Ibu Teti tak terbantahkan oleh apapun memang. Bukan
apa-apa, Pak Boy pun sakit karena hal yang sama. Gusar dan kecewa. Gusar atas
kelambanan penuntasan dan kecewa karena harapan yang hanya berupa janji.
Akhirnya, tak dapat
ditahan-tahan lagi. Kepercayaan dan mandat mereka pelan-pelan senyap disapu
kesibukan kita masing-masing.

 

Ego kitalah yang merusak
kepercayaan itu. Dan kepercayaan tak dapat terbayarkan karena berdirinya
Monumen Tragedi 12 Mei. Kepercayaan tak bisa dilunasi dengan nama gedung dan
atau predikat “Kampus Pahlawan Reformasi”. Kepercayaan seperti pengorbanan, tak
dapat dibandingkan dengan apapun. Justeru karena kita menangguk untung dari
pengorbanan mestinya kita merasa berhutang. Hutang yang tak sanggup kita
lunasi, kecuali kita menjaga teguh kepercayaan itu sendiri.

 

ADALAH juga merupakan hutang
dan kematian nurani ketika terdapat penindasan sementara kita hanya diam tak
bertindak. Juga merupakan kematian nurani bagi kita yang membiarkan kematian
keempat sahabat dan pahlawan kita menjadi semakin sia-sia. Nurani yang mati
adalah nurani yang takut hidup. Maka, kalian yang berani hidup mesti teguhkan
bahwa: harapan seperti jalan setapak di dalam hutan, ia (menjadi) ada karena
banyak orang yang melaluinya. Bergabunglah pada harapan, supaya harapan itu
tetap ada.

 

Akhir kata, bersama duka,
rindu dan kekaguman yang mendalam kulepas kepergianmu, Pak Boy dengan satu
tekad abadi: “kami tuntaskan.” Innalillahi
wa inna ilaihi rojiun.

 

 

 

Grogol, pertengahan Ujian
Akhir Semester, medio Januari 2003.

(tak ada alasan untuk tetap
diam!)

 

Leave a Reply